Minggu, 3 Mei 2026, pukul : 08:10 WIB
Surabaya
--°C

Mahmud: Adi Sutarwijono Ketua DPRD yang Tak Pernah Meledak-ledak

Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Mochammad Mahmud saat pemakaman Adi Sutarwijono di TPU Keputih, Kamis (12/2).

SURABAYA-KEMPALAN: Kepergian Adi Sutarwijono meninggalkan kesunyian yang terasa berbeda di lingkungan DPRD Kota Surabaya.

Kamis (12/2) sore, Ketua DPRD Surabaya itu dimakamkan di TPU Keputih, Sukolilo, setelah sebelumnya disemayamkan di Grand Heaven dan dibawa ke Gedung DPRD untuk penghormatan terakhir.

Bagi banyak kolega, Adi bukan sekadar pimpinan lembaga legislatif. Ia adalah seorang sahabat diskusi, teman lama di dunia jurnalistik, dan sosok yang menjalani politik dengan nada tenang—tanpa ledakan emosi.

Salah satu yang merasakan kehilangan mendalam adalah Mochammad Mahmud, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya. Hubungan mereka bermula jauh sebelum politik mempertemukan mereka di ruang sidang.

“Saya kenal Pak Adi sudah lama, karena sama-sama wartawan,” ujar Mahmud, mengenang.

Pemakaman Adi Sutarwijono di TPU Keputih Surabaya

Saat itu, Mahmud bekerja di Memorandum, sementara Adi di Harian Surya. Mereka sama-sama besar di lapangan, mengejar berita, dan menghidupi idealisme khas wartawan.

Komunikasi sempat merenggang ketika Adi berpindah dari Harian Surya ke Majalah Tempo. Dunia jurnalistik membawa mereka ke arah masing-masing, hingga politik kembali mempertemukan keduanya.

Pada Pemilu 2009, Adi maju sebagai calon legislatif dari PDI Perjuangan, sementara Mahmud melalui Partai Demokrat. Jalan politik mereka kala itu belum sepenuhnya seiring. Mahmud lebih dulu duduk di kursi DPRD, bahkan sempat menjabat Ketua DPRD Kota Surabaya selama dua setengah tahun.

Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali dalam satu lembaga. Sekitar tahun 2012 atau 2013, Adi masuk DPRD melalui mekanisme PAW setelah caleg di Dapil 3 yang berada di atasnya meninggal dunia.
Pelantikan itu dilakukan langsung oleh Mahmud.

Sejak saat itu, komunikasi yang lama terputus kembali terjalin. Bukan hanya sebagai sesama politisi, tetapi sebagai dua orang yang pernah berbagi kerasnya hidup wartawan.

“Kalau ngobrol, ya njambal,” kata Mahmud sambil tersenyum mengenang. Tidak ada panggilan formal. “Saya dipanggil Mat-Mut, dia saya panggil Awi. Tapi kalau di forum resmi, baru pakai Pak.”

Bagi Mahmud, latar belakang jurnalistik Adi membentuk wataknya dalam berpolitik. Prinsipnya kuat, caranya tenang. Ia tidak mudah meledak-ledak saat menghadapi persoalan.
“Pak Adi itu orangnya kalem. Kalau ada masalah, tidak emosional. Itu yang saya lihat,” ujarnya.

Sebagai Ketua DPRD, Adi kerap mengajak berdiskusi. Mulai dari isu pembangunan Surabaya, pembahasan pokok-pokok pikiran DPRD, hingga persoalan pedagang dan masyarakat. Ia mendengar, bertanya, dan meminta pendapat.

Di luar urusan politik, Adi dikenal memiliki hobi memelihara burung perkutut. Bagi Mahmud, kegemaran itu seolah mencerminkan kepribadian Adi sendiri—tenang dan tidak tergesa.
“Biasanya orang yang senang perkutut itu kalem,” katanya.

Kabar wafatnya Adi di Jakarta akibat kanker hati datang mengejutkan. Dalam satu bulan terakhir, Adi memang lebih banyak menjalani perawatan di Jakarta. Namun tiga bulan sebelumnya, ia masih aktif berkomunikasi dan terlihat baik-baik saja.

Mahmud bahkan sempat menasihati Adi agar tidak terlalu memikirkan persoalan politik, termasuk saat ia tidak lagi dipercaya sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya.“Saya bilang, jangan dibawa ke rumah. Jangan terlalu dipikirkan,” kenangnya.

Kini, kursi Ketua DPRD yang pernah ia duduki terasa lebih senyap. Bagi Mahmud, yang hilang bukan hanya seorang pimpinan, melainkan seorang sahabat lama dan teman diskusi. “Saya benar-benar kehilangan,” ucapnya lirih. “Semoga Pak Adi mendapatkan tempat terbaik,” sambungnya.

Adi Sutarwijono telah berpulang. Namun jejaknya—sebagai wartawan yang berprinsip dan politisi yang rendah nada—tetap tinggal dalam ingatan mereka yang pernah berjalan bersamanya.”Selamat jalan sahabat, semoga engkau mendapat tempat terbaik,” pungkas Mahmud. (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.