KEMPALAN : Belakangan saya sering mendapat kiriman video dari sobat saya jurnalis senior yang penggiat seni : M. Anis.
Video-video ini sebagian banyak berbentuk irama tubuh, atau –katakanlah koreografi– yang memadukan gerakan-gerakan oleh seseorang atau lebih yang muaranya: estetika. Salah satu video yang dikirim berdurasi 3 menit.
Setelah menonton 3 kali, impresi saya menyiratkan bahwa ini pertunjukan luar biasa. Boleh jadi masuk kategori “pop art”.
Lantas kepada Pak Anis, spontan saya katakan via WA : “Keren, Pak Anis. Ini mungkin semacam ‘seni rupa pertunjukan’, gabungan antara gerak dengan komposisi bentuk dan warna.”
Seni Rupa Pertunjukan, apa itu? Barangkali yang dimaksud adalah gabungan seni rupa, tari, bahkan teater.
Di antara tiga unsur seni tersebut, mana yang lebih menonjol? Tidak ada. Ini adalah transformasi. Atau bahkan, bisa jadi : fusi. Beberapa unsur “dikawinkan” sehingga menjadi “satu” unsur baru.
—
Seorang perempuan paruh baya dengan wajah Afro-Asia, ber-outfit yang hampir menutup seluruh tubuhnya dengan warna-warni cerah — tampak mengiramakan gerak tubuh.
Di latar belakang, terpampang beberapa lukisan dengan garis-garis segi empat yang diisi berbagai warna. Kadang bergradasi, kadang dengan tegas garis memisahkan warna.
Dalam hitungan 40 kali selama 3 menit itu, sosok ini berganti outfit dari kepala hingga kaki, juga berganti ruang pengisian gerak — dari ruang mirip kamar tamu, mirip dapur, menyerupai junction depan 2 pintu lift, depan semacam panggung yang tentu saja elevasinya lebih tinggi dari lantai dimana ia menari. Juga di ruangan yang mirip panggung pertunjukan konvensional lengkap dengan wings di sisi kanan dan kiri.
Semua kostum yang dikenakan maupun arena di mana ia menggemulaikan tubuhnya, terus berubah dengan cepat, termasuk perubahan “dekorasi” yang melatar-belakangi.
Apa yang menjadi renungan saya setelah menikmati sajian ini? Betapa hebat editingnya. Atau, boleh jadi : betapa luar luar biasa teknologi AI membersamai content creator.
Namun, canggih atau tidaknya AI, tetap faktor a man behind the gun- lah yang menentukan karya itu menjadi hebat. Dan kreator karya “seni rupa pertunjukan” ini, telah begitu memukau saya. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi