Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 15:57 WIB
Surabaya
--°C

Bendera Putih

KEMPALAN: Bendera putih berkibar di sejumlah tempat di wilayah bencana di Aceh. Sejumlah warga yang tengah berjuang memulihkan diri dari bencana banjir bandang mengibarkan bendera putih di rumah-rumah mereka, pertanda minta bantuan darurat. Bendera putih sekaligus menjadi simbol bahwa mereka sudah tidak sanggup lagi menghadapi penderitaan.

Bendera putih menjadi simbol penyerahan diri dan permintaan bantuan darurat semacam SOS atau save our soul (selamatkan nyawa kami). Dalam tata komunikasi internasional terdapat berbagai simbol dan isyarat yang dapat dipahami secara global. Salah satunya ialah isyarat mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.

Tradisi ini sudah digunakan sejak masa lampau oleh bangsa China dan Romawi untuk menandakan sikap menyerah. Penggunaan isyarat itu dimulai pada era Dinasti Han Timur, sekitar tahun 25 hingga 220 Masehi. Namun tradisi tersebut dipercaya telah berusia lebih tua dari itu.

Buku ‘Histories’ yang ditulis pengarang Romawi bernama Cornelius Tacitus pada 109 menyebut penggunaan bendera putih pada Pertempuran Cremona Kedua antara bangsa Vitellia dan Vespasia. Saat itu warna putih digunakan sebagai lambang bagi prajurit yang menyerah.

Warna putih digunakan karena lebih mudah dikenali di tengah kondisi pertempuran. Pada saat itu sebagian besar orang menggunakan kain warna putih dan merupakan sebuah bahan yang mudah diperoleh.

Dalam budaya China, warna putih merupakan lambang duka dan kematian, sehingga bendera putih dianggap pertanda duka dan kesedihan yang mereka alami karena kekalahan.

Selain sebagai tanda menyerah, bendera putih juga berkembang sebagai tanda gencatan senjata dan ajakan negosiasi dalam peperangan. Pada saat perang, banyak utusan negosiasi yang mengibarkan bendera putih ketika mendekati kubu lawan. Warna putih juga digunakan oleh petugas kesehatan untuk mengangkut orang-orang yang terluka.

Pada beberapa abad terakhir, makna-makna yang muncul dari bendera ini telah disepakati secara global melalui Konferensi Jenewa dan Den Haag. Bendera putih dianggap sebagai sebuah simbol yang sakral untuk melindungi penggunanya dari berbagai serangan. Simbol ini tidak boleh dimanfaatkan sebagai sebuah cara terselubung untuk menyerang.

Bagi warga Aceh bendera putih memberi message ganda. Di satu sisi mereka menyerah karena tidak mampu lagi mengatasi persoalan. Di sisi lain mereka memprotes pemerintah pusat yang dinilai lamban dalam bertindak.

Semiotika warna putih juga bisa dimaknai sebagai simbol terakhir untuk meminta pertolongan terhadap nyawa. Warna putih menjadi pendanda bahwa rakyat sudah menyerah. Bagi pemerintah, warna putih menjadi ‘’petanda’’ bahwa message itu ditujukan kepada mereka yang berkuasa.

Bendera menjadi senjata pamungkas yang bisa efektif. Beberapa waktu yang lalu banyak sopir kendaraan umum yang mengibarkan bendera ‘’One Piece’’ bergambar tengkorak bertopi jerami yang dikenal sebagai bajak laut ‘’Jolly Rogers’’.

Para sopir di jalanan itu secara sengaja menjadikan bajak laut sebagai idola. Hal itu menjadi indikasi bahwa masyarakat mengalami krisis idola. Tidak ada lagi tokoh masyarakat yang bisa dijadikan panutan dan role model. Maka ketika masyarakat membutuhkan pahlawan dan idola mereka lari kepada bajak laut.

Bajak laut adalah perompak yang menjarah kapal-kapal yang lewat di lautan. Mereka dianggap sebagai pengacau, orang marginal, dan outcast yang terpinggirkan. Tetapi, semua atribusi negatif ini tidak menghalangi masyarakat untuk menjadikan bajak laut sebagai idola.

Pada komunitas Jolly Rogers para bajak laut itulah ditemukan nilai-nilai kejujuran, kebebasan, dan kesetiakawanan. Nilai-nilai itu sudah sangat langka dalam realitas kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu hanya menjadi slogan dan retorika yang diucapkan dengan gegap gempita selama masa kampanye saja.

Bendera putih di Aceh kurang lebih bermakna sama. Ada message kuat yang tergambar pada bendera putih itu. Putih berarti kosong, tidak ada isi. Janji kampanye dan pidato retorika menjadi suara kosong yang tidak punya arti.

Ketika rakyat tidak berdaya dihajar bencana, maka yang bisa mereka lakukan adalah perlawanan simbolik dengan bendera putih. Bendera itu berarti ketidakberdayaan, atau powerless. Tetapi justru pada ketidakberdayaan itulah muncul power, kekuatan, dari masyarakat.

Budayawan Cekoslovakia Vaclav Havel menyebutnya sebagai ‘’the power of powerless’’, kekuatan orang-orang yang tidak punya kekuatan. Di tengah tekanan rezim otoritarian komunis yang pongah, pedagang buah di Ceko menolak memasang logo di toko buahnya, ‘’All workers unite’’, semua kaum pekerja bersatulah.

Pembangkangan kecil itu ternyata kemudian meluas ke seluruh penjuru negeri. Semua pedagang buah menolak memasang logo komunis itu. Perlawanan kecil dari pedagang buah yang ‘’powerless’’ ternyata berkembang menjadi power yang menggulingkan pemerintah komunis Ceko pada 1992.

Bendera putih di Aceh punya makna sama. Justru di tengah ketidakberdayaan dalam gempuran bencana itu mereka menunjukkan kekuatannya. Bendera putih itu simbol dari kekuatan di tengah ketidakberdayaan.

Dalam kondisi yang mencekik leher, pemerintah masih tetap keukeuh dengan pendapatnya. Tidak perlu ada bantuan asing. Pemerintah Indonesia bisa mengatasi semuanya sendirian. Retorika yang berapi-api tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Sungguh ironis. Ketika rakyat mengibarkan bendera putih karena kelaparan, justru pemerintah Kota Medan menolak bantuan 30 ton beras dari pemerintah UEA (Uni Emirat Arab).

Nasionalisme chauvinis ala Presiden Prabowo Subianto menyebabkan rakyat tidak punya pilihan, kecuali mengibarkan bendera putih. ()

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.