Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 01:40 WIB
Surabaya
--°C

‎Sawung Dance Festival 2025: Perjumpaan Maestro Tari dan Generasi Baru‎

KEMPALAN: Tubuh adalah rumah pertama manusia. Ia menyimpan memori, menyalurkan bahasa, sekaligus menjadi medium perlawanan. Sebelum kata-kata lahir, tubuh telah lebih dulu bersuara lewat getaran. Getar itulah yang kini menjadi metafora zaman.

‎Kita hidup di era yang serba bergejolak,  krisis iklim yang kian mengguncang, pandemi yang belum usai sepenuhnya, konflik sosial-politik yang meletup di mana-mana, hingga derasnya arus teknologi yang menelan ruang kontemplasi. Semua itu mengguncang tubuh, menimbulkan tremor.

‎Di tengah kegelisahan itu, Sawung Dance Festival 2025 hadir membawa tema “Tremor: Bodies at The Edge of Change” – Getaran Tubuh di Ambang Perubahan. Perhelatan berlangsung pada 19–20 September di Gedung Cak Durasim Taman Budaya di Surabaya.

‎Tema “Tremor” ini bukan sekadar judul artistik melainkan cermin zaman. Kita semua sedang berdiri di ambang perubahan besar, dan tubuhlah yang paling setia menjadi saksi sekaligus medium penyampai.

Tubuh sebagai Bahasa yang Jujur

‎Tubuh tidak pernah bisa berbohong. Jika kata-kata dapat dipoles untuk menipu, tubuh justru menelanjangi kebenaran. Getaran tangan, tarikan napas, detak jantung, semua adalah bahasa jujur bahkan lebih gamblang daripada pidato di mimbar mana pun.

‎Di panggung festival ini, tubuh para penari tidak hanya menari tetapi berbicara. Mereka menyuarakan keresahan sosial, merayakan tradisi juga  mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab dengan angka atau statistik. Apakah kita siap menghadapi perubahan? Atau kita hanya akan menjadi penonton dari kegagapan dunia yang terus bergerak?

‎Salah satu momen penting festival adalah hadirnya Hartati, koreografer senior asal Jakarta yang sudah 40 tahun menari. Dalam format lecture performance, ia tidak hanya menampilkan karya tari tetapi juga perjalanan hidup tentang pengalaman perempuan, ritual keluarga maupun  pergulatan sosial yang membentuknya.

‎Kehadirannya ibarat penanda generasi, sebuah jembatan yang menghubungkan pengalaman panjang seorang maestro dengan pencarian generasi baru.

‎Bagi Hartati, tubuh adalah arsip hidup. Setiap gerakan adalah ingatan, setiap tremor adalah tanda perjalanan. Dalam bahasa tubuhnya, terkandung kritik sosial sekaligus refleksi personal. Kehadirannya menegaskan bahwa festival bukan hanya ajang tontonan tetapi juga ruang transfer pengetauan antar-generasi.

‎Di sisi lain, program Karya Bertumbuh memberi ruang bagi koreografer muda Jawa Timur untuk menorehkan jejak. Tahun ini hadir Adam Mustofa (Ponorogo), Angga I Tirta (Surabaya), Mistahul Jannah (Banyuwangi), dan Nia Anggraini (Surabaya). Mereka menjalani residensi intensif bersama Hari Gulur, koreografer Madura yang telah mengukir nama di kancah internasional.

‎Dari tarian mereka tampak tubuh-tubuh muda yang sedang mencari bahasa. Tubuh yang resah, tubuh yang merayakan, tubuh yang berani menggigil di hadapan zaman.

Tremor Sebagai Tanda Kehidupan

‎Dalam dunia medis, tremor sering dianggap sebagai gejala gangguan saraf. Namun dalam dunia seni, tremor justru dimaknai sebagai tanda kehidupan. Getaran itu mengingatkan kita bahwa tubuh masih peka, masih berani merespons, masih ingin menegaskan keberadaannya.

‎Festival ini menempatkan tremor sebagai metafora kolektif. Getaran kecil yang bisa memicu gelombang besar. Dari kegelisahan personal lahir energi sosial.  Dari tubuh-tubuh yang menari lahir kesadaran bersama.

‎Sawung Dance Festival, sejak lahir pada 2015, telah konsisten menjadi ruang alternatif bagi tari kontemporer di Jawa Timur. Di tengah minimnya panggung bagi koreografer muda setelah lulus dari pendidikan formal, festival ini menjadi lahan subur untuk tumbuh. Ia mempertemukan seniman lintas daerah, menghadirkan nama besar sekaligus membuka jalan bagi bibit baru.

‎Program seperti Residensi Reset Artistik memperkuat akar itu. Para peserta dari Surabaya, Malang, Madiun, hingga Tulungagung diajak menelaah praktik artistik festival dan menghubungkannya dengan pengalaman komunitas masing-masing. Proses semacam ini penting. Bukan hanya merayakan karya di atas panggung tetapi juga menghidupkan dialog di luar panggung.

Tubuh, Zaman dan Harapan

‎Di balik semua program, festival ini mengingatkan satu hal penting bahwa  tubuh tidak pernah netral. Ia merekam jejak sejarah, ia menolak penindasan, ia merayakan kebebasan. Dalam tubuh penari, kita melihat refleksi kehidupan,  rapuh sekaligus tangguh, gamang sekaligus penuh harapan.

‎Surabaya mungkin bukan pusat tari kontemporer seperti Yogyakarta atau Jakarta. Namun melalui Sawung Dance Festival, kota ini meneguhkan diri sebagai ruang yang menyuburkan pencarian artistik.

‎Sawung Dance Festival menjadi saksi bahwa seni tidak hanya tumbuh di pusat, melainkan juga di pinggiran. Dan, dari pinggiran sering lahir energi yang lebih segar.


Rokimdakas
‎Penulis Surabaya
‎21 September 2025

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.