Kamis, 23 April 2026, pukul : 08:47 WIB
Surabaya
--°C

Seabad Mahathir

KEMPALAN: Mahathir Mohamad berusia seratus tahun, Kamis (10/7). Tidak banyak politisi dunia yang bisa mencapai usia seperti Mahathir. Ia terlihat sehat, tidak pikun, update terhadap isu-isu nasional, regional, dan global serta—ini yang ditakuti lawan-lawan politiknya—tetap mengikuti isu-isu strategis di dalam negeri Malaysia.

Mahathir tidak aktif lagi secara praktis dalam politik, tetapi ia tetap berada dalam pusaran politik nasional, regional, dan internasional. Ia masih aktif memberi komentar politik melalui podcast. Ia berbicara mengenai masalah dalam negeri Malaysia dan juga berkomentar mengenai masalah-masalah mutakhir di Gaza.

Mahathir sangat beruntung menjadi saksi dan pelaku sejarah tiga zaman. Ia mengalami masa pergolakan Perang Dunia II, masa kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika dari penjajahan Eropa, menjadi pelaku aktif dalam masa perang dingin. Ia kemudian masih ‘’menangi’’ masa-masa ketika Amerika menjadi adidaya tunggal. Sekarang Mahathir menjadi saksi sejarah dalam masa transisi paling penting dalam pergeseran kekuatan dunia dari Amerika ke China dan Rusia.

Selama rentang karir politik yang sangat panjang itu Mahathir konsisten mempertahankan brand dan karakter politiknya yang kritis dan independen terhadap kekuatan-kekuatan global. Malaysia adalah negara anggota Persemakmuran atau Commonwealth bekas jajahan Inggris. Tetapi, sikap Mahathir terhadap Inggris selalu kritis dan bahkan antagonistis. Demikian pula terhadap Amerika. Juga terhadap Israel.

Hilang sudah era ketika pemimpin karismatis seperti Sukarno berteriak ‘’Amerika kita setrika, Inggris kita linggis’’. Di Indonesia sudah tidak kita dapati lagi pewaris Bung Karno, kecuali sejumlah politisi yang mengaku sebagai pengikut Sukarno, sekadar jualan brand dan marketing politik.

Justru Mahathir yang berani meneriakkan retorika Sukarno ‘’go to hell with your aids’’. Itu dia lakukan ketika Amerika dan Eropa memaksakan paket bantuan IMF (Dana Moneter Internasional) untuk mengatasi dampak krisis moneter Asia Tenggara, 1998.

Paket privatisasi dan liberalisasi ekonomi yang ditawarkan IMF–sebagai imbalan dari bantuan keuangan untuk mengatasi dampak krisis moneter–ditolak dengan tegas oleh Mahathir. Ia menganggapnya sebagai bentuk neo-imperialisme dan neo-kolonialisme yang harus dilawan.

Mahathir melakukannya seperti Sukarno. Itulah sebabnya Mahathir dijuluki ‘’Little Sukarno’’. Kita sering berang ketika ikon budaya Indonesia didaku oleh Malaysia. Tetapi ketika Sukarno, ikon politik kita didaku, oleh Malaysia tidak pernah terdengar ada yang mempertanyakan.

Krismon 1998 adalah ‘’moment of truth’’, momen pembuktian bagi Indonesia dan Malaysia. Indonesia menerima paket bantuan dari IMF. Presiden Soeharto menandatangani pakta perjanjian di depan bos IMF, Michel Camdessus, yang bersedekap menyaksikan Soeharto bertandatangan sambil menunduk di depannya. Bangsa Indonesia mengingat momen itu sebagai momen kekalahan.

Malaysia berhasil mengatasi krisis dengan sukses tanpa resep IMF. Indonesia yang menelan resep IMF malah kritis dan ambruk. Pak Harto jatuh. Dampak krisis masih terasa sampai bertahun-tahun kemudian, bahkan sampai sekarang.

Pak Harto dan Lee Kuan Yew dari Singapura, dan Mahathir menjadi bagian dari era kebangkitan ASEAN. Tiga negarawan itu menjadi ‘’Three Musketeers’’ yang disegani seluruh dunia. Lee Kuan Yew menjadikan Singapura sebagai negara paling makmur dan sejahtera di dunia. Malaysia menjadi negara berkembang yang independen dan berkarakter di bawah Mahathir. Pak Harto membawa Indonesia menjadi negara yang masuk dalam kelompok ‘’Macan Asia’’.

Ketiga tokoh itu tidak dikenal sebagai kampiun demokrasi. Lee Kuan Yew ialah diktator yang memberangus kebebasan politik oposisi dan memerintah Singapura dengan tangan besi. Dalam waktu bersamaan dia memberi kemakmuran dan kesejahteraan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Pak Harto membawa stabilitas ekonomi dan politik. Membawa kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi. Murah sandang, murah pangan, murah papan. Bersamaan dengan itu Pak Harto memberangus demokrasi.

Mahathir bertangan besi. Ia keras terhadap oposisi, dan tidak kenal ampun terhadap penentangnya. Anwar Ibrahim yang menjadi protégé–kader yang disiapkannya sebagai pengganti–justru berubah menjadi lawan politik bebuyutan. Anwar dikuyo-kuyo sampai masuk penjara.

Gaya politik Mahathir yang keras tanpa ampun terbukti sukses membawanya menjadi perdana menteri selama 22 tahun, rekor perdana menteri paling lama di Malaysia. Anwar yang ulet dan bermental baja sekarang menjadi perdana menteri setelah pengaruh Mahathir memudar.

Mahathir kritis terhadap bangsa Melayu, etnisnya sendiri. Ia menulis buku ‘’The Malay Dilemma’’ (1970). Ia mengritik bangsa Melayu yang malas dan tidak punya mental berjuang. Ia melihat etnis Melayu tidak akan mampu bersaing dengan etnis lainnya seperti China dan India di Malaysia.

Buku itu provokatif dan berbahaya, karena itu dilarang beredar sampai 11 tahun. Ketika kemudian Mahathir menjadi perdana menteri, dia mengimplementasikan konsepnya di buku itu menjadi kebijakan politik dan ekonominya. Mahathir mengeluarkan kebijakan ‘’affirmative action’’ yang banyak memberi privilege kepada etnis Melayu.

Etnis Melayu diberi kemudahan dalam menerima kredit bank. Diberi pendidikan gratis dan beasiswa ke luar negeri. Etnis Melayu diangkat menjadi etnis utama yang lebih superior ketimbang China, India, dan ras Eropa di Malaysia. Kebijakan ini dianggap diskriminatif dan rasis. Mahathir tidak peduli. Hasilnya terlihat nyata. Malaysia menyalip Indonesia, dan bersaing dengan Singapura.

Lee Kuan Yew (1923-2015) pun menerapkan kebijakan yang sama. Ia memberi privilege kepada warga China yang menjadi mayoritas. Ia memberangus demokrasi dan menghilangkan oposisi. Ia menolak demokrasi liberal dan mempraktikkan Asian Value, yang oleh pengritiknya dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia.

Tapi Lee dan Mahathir sama-sama berhasil menyejahterakan negara dan bangsanya. Sampai sekarang pondasi dan legasi yang mereka bangun tetap menjadi landasan pembangunan negara.

Indonesia pasca Soeharto memilih jalan demokrasi liberal. Indonesia menelantarkan demokrasi Pancasila ala Soeharto maupun ‘’Demokrasi Terpimpin’’ versi Sukarno. Hasilnya? Kita ketinggalan jauh dari Malaysia dan Singapura.

Di usianya yang seabad, Mahathir bisa tersenyum melihat masa lalunya. Mungkin ia bertanya: Siapa butuh demokrasi? ()

Dhimam Abror Djuraid

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.