Selasa, 28 April 2026, pukul : 06:14 WIB
Surabaya
--°C

First Lady dan First Teddy


Oleh: Dhimam Abror Djuraid

KEMPALAN: Teddy Indra Wijaya, lebih dikenal sebagai Mayor Teddy, menjadi salah satu bintang selama masa kampanye presiden 2024. Dia selalu lengket di dekat Prabowo. Tidak pernah lepas dari jarak satu meter dari Prabowo. Sigap dan cekatan mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan Prabowo.

Dari bahasa tubuhnya terlihat sekali Teddy begitu dekat dengan Prabowo. Prabowo terlihat sekali sangat membutuhkan Teddy. Tampilannya yang charming dan gagah membuat Mayor Teddy populer di kalangan netizen.

Dia bahkan banyak dikait-kaitkan dengan beberapa selebritas cantik, seperti Nikita Mirzani. Maklum Teddy seorang duren, alias duda keren. Ia cerai dari istrinya, Wita Nidia Hanifah, pada 2019 setelah menikah selama setahun.

Sudah bisa diduga bahwa Teddy bakal mendapat posisi penting setelah Prabowo menjadi presiden. Tapi, banyak yang tidak menyangka Teddy akan menjadi sekretaris kabinet, yang posisinya setingkat menteri. Prabowo menjadikan Teddy sebagai liason officer paling terpercaya. Ia menjadi penghubung utama Prabowo dengan menteri-menterinya.

Teddy juga menjadi penghubung utama antara Prabowo dengan Jokowi, karena Teddy pernah menjadi ajudan Jokowi ketika menjadi presiden. Teddy kemudian ‘’diwariskan’’ kepada Prabowo ketika menjabat menteri pertahanan.

Pengangkatan Teddy sebagai pejabat setingkat menteri menuai protes. Apalagi Teddy masih berpangkat mayor. Jabatan seskab juga bukan jabatan yang harus diisi oleh militer. Maka kemudian posisi Teddy digeser menjadi pejabat di bawah Kementerian Sekretaris Negara.

Banyak beredar isu bahwa Teddy lebih powerful ketimbang Mensesneg Prasetyo Hadi. Tentu bisa dimaklumi, karena Teddy punya akses langsung kepada Prabowo. Menteri-menteri dari kader Gerindra kabarnya tidak berani menghadap ke Prabowo kalau tidak dipanggil.

Menteri-menteri seperti Mensesneg Prasetyo Hadi, Wamen Pertanian Sudaryono, Menlu Sugiono, dikenal sebagai orang-orang dekat Prabowo. Mereka disebut sebagai ‘’Ksatria Jedi’’ oleh Prabowo. Mereka semua setia kepada Prabowo laiknya ajudan kepada atasannya.

Teddy menjadi figur yang full power. Ketika Miftah Maulana Habiburrahman terlibat kehebohan karena menghina pedagang es teh, Teddy-lah yang menghubungi Miftah menyampaikan pesan dari Prabowo supaya Miftah mundur dari jabatan sebagai utusan khusus bidang moderasi beragama.

Yang terbaru, Menteri Pendidikan Tinggi Satryo Sumantri Brodjonegoro mengundurkan diri setelah didatangi Mayor Teddy. Satryo bercerita bahwa Teddy menemuinya di rumah dinas menteri dan memintanya mundur.

Kata Teddy, Satryo membuat kesalahan fatal karena menyebabkan kegaduhan di lingkungan pegawai rumah tangga yang dimutasi. Menurut Satryo, ia justru memutus rantai korupsi yang mengakar di lingkungan rumah tangga kementerian. Tapi malah dia yang terpental.

Dosa Satryo lainnya adalah tidak bisa mengendalikan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa bergelombang. Prabowo, kata Satryo mengutip Teddy, tipis kuping, merasa risih terhadap aksi unjuk rasa yang membuatnya tidak nyaman.

Sekarang Teddy menjadi sorotan karena mendapat kenaikan pangkat istimewa sebagai letnan kolonel. Kenaikan ini dianggap tidak wajar, karena Teddy tidak punya keistimewaan apa-apa di kesatuannya. Tapi KSAD maupun Panglima TNI keukeuh dengan keputusannya bahwa Teddy berhak atas kenaikan pangkat istimewa itu.

Selain Teddy, ada Mayjen Novi Helmy Prasetya yang menjadi sorotan. Ia rangkap jabatan sebagai direktur utama Bulog dan Danjen Akademi Militer. Jabatan ganda ini memicu kontroversi karena dikhawatirkan akan membawa kembali kebangkitan dwifungsi militer.

Protes muncul dari banyak penjuru. Yang paling high profile adalah protes dari SBY. Ia mengingatkan bahwa TNI sudah kembali kepada khittah sebagai kekuatan pertahanan. Era dwifungsi TNI sudah berakhir dengan lahirnya reformasi 1998. SBY termasuk jenderal yang merumuskan konsep TNI kembali ke barak, dan mengembalikan nama TNI dari sebelumnya ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Ada indikasi Prabowo ingin mengembalikan dwifungsi ABRI. Revisi UU TNI menunjukkan bahwa Prabowo ingin menghidupkan kembali TNI sebagai kekuatan sosial dan politik, seperti yang terjadi di era Pak Harto ketika berkuasa selama 32 tahun.

Dwifungsi ABRI adalah doktrin militer yang telah hidup sejak era Bung Karno, kemudian menjadi kekuatan mapan pada era Suharto. Konsep Dwifungsi ABRI digagas oleh Jenderal A.H Nasution yang menjadikan ABRI sebagai kekuatan yang menyatu dengan rakyat.

Harold Crouch dalam ‘’Militer dan Politik di Indonesia’’ (1999) menyebut bahwa militer dan politik tidak pernah dipisahkan dalam sejarah politik Indonesia. Pada masa revolusi kemerdekaan 1945-1949, tentara terlibat aktif dalam tindakan politik maupun militer.

Setelah merdeka, tentara memainkan peran politik dan ekonomi yang penting. Banyak perwira militer yang aktif di bidang ekonomi. Pada era demokrasi liberal 1955 tentara memiliki wadah politik dan memiliki hak suara dalam Pemilu 1955.

Soekarno kemudian mengumumkan dekrit dan menerapkan demokrasi terpimpin pada 1959. Tentara menjadi kekuatan penyeimbang yang penting. Soekarno punya kedekatan khusus dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), dan hal itu membuat TNI galau.

Tentara kemudia berhasil menggagalkan pemberontakan PKI yang menculik jenderal-jenderal anti-komunis. Kubu komunis terpental dari lingkaran kekuasaan. Elite-elitenya dibabat habis. Pak Harto menjadi penguasa tunggal, karena keberhasilannya menghancurkan PKI.

Lahirlah Orde Baru dengan Dwifungsi ABRI sebagai fondasi. Kekuatan sipil dikebiri secara sitematis. Partai politik dikerdilkan, dan tentara menjadikan Golkar sebagai mesin politik yang sangat efektif.

Dwifungsi ABRI runtuh dengan jatuhnya Pak Harto oleh gerakan reformasi 1998. Pada 2004 lahir UU TNI yang memisahkan peran TNI dalam kehidupan sipil. TNI kembali ke barak. Kembali ke khittah sebagai tentara profesional yang tidak berpolitik.

Kini, 20 tahun berselang, Prabowo ingin menghidupkan kembali hantu lama Dwifungsi. Kali ini Dwifungsi versi baru yang disebut ‘’Multifungsi’’ atau Dwifungsi 3.0

Letkol Teddy menjadi simbol kelahiran kembali Dwifungsi 3.0. Posisi Teddy yang istimewa bersama Prabowo menjadi sorotan. Di mana ada Prabowo di situ ada Teddy. Kata netizen, Prabowo tidak punya ‘’First Lady’’, tapi punya ‘’First Teddy’’. (DAD)

Editor: Nur Izzati Anwar (Izzat)

*Penulis: Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, pengajar ilmu komunikasi Unitomo, Surabaya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.