Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 22:48 WIB
Surabaya
--°C

Negara Masih Miskin Kok Mancing

KEMPALAN : Sekitar tahun 1990-an saya pernah dimintai tolong teman yang seniman supaya dikenalkan dengan Dahlan Iskan yang waktu itu Pimpinan Jawa Pos Group. Keperluannya, teman ini dimintai tolong temannya yang anak mantan pejabat nomor 1 di Jawa Timur, untuk menjualkan bangunan kantornya di kawasan Surabaya Pusat dekat Taman Bungkul. Siapa tahu Dahlan atau Jawa Pos berminat membeli.

Sebagai teman Dahlan Iskan ketika masih sama-sama bertugas di lapangan saat jadi reporter pada media berbeda sebelum kurun itu, yang kemudian disusul saya jadi anak buahnya karena diserahi mengurus salah satu koran Grup Jawa Pos, saya optimitistis akan disambut Dahlan dengan baik jika menemuinya. Cuma, kalau untuk urusan jual-menjual properti, saya ragu untuk melangkah. Saya tidak punya pengalaman di dunia jual-menjual properti. Tapi pada akhirnya saya berpikir apa salahnya dicoba, sebagaimana orang Surabaya bilang Menang cacak, kalah cacak.

Ternyata tak seburuk yang saya bayangkan. Dahlan menyambut kami dengan bersahabat. Bahkan pada hari-hari selanjutnya kami datangkan juga putra mantan penjabat penting itu untuk bicara soal properti yang ditawarkan tersebut. Dan ada lebih dari satu kali kami menengok properti yang ditawarkan itu.

Rupanya belum rezeki Dahlan. Ternyata dibeli orang lain. Mungkin salah satu gagalnya Dahlan membeli properti tersebut karena saat dalam bernegoisasi dan belum ada deal, Dahlan harus berangkat ke luar negeri selama dua minggu.

Salah satu yang saya ingat betul saat proses negoisasi yakni ketika Dahlan Iskan, saya, dan teman yang seniman itu, dalam perjalanan dengan mobil saya mengantar pulang Dahlan ke kantornya di Jalan Karah Agung nomor 45, Surabaya dari menengok lokasi properti yang ditawarkan tersebut. Selepas melewati jembatan Rolag Gunungsari, Dahlan bertanya kabar sang putra mantan pejabat nomor 1 kok hari itu tidak kelihatan. Dijawab oleh teman saya: “Mancing, Mas”.

“Mancing?! “ kata Dahlan bernuansa heran.

“Ya, mancing. Kadang sampai bermalam,” kata teman saya yang sekian tahun kemudian menjadi Ketua Dewan Kesenian Surabaya, yang lantas menambahkan bahwa salah satu lokasi mancing putra mantan pejabat tersebut di Selat Madura dekat Gresik.

“Negara masih miskin kok mancing …,” sahut Dahlan datar. Saat itu saya membatin, menarik juga komentar Dahlan Iskan ini.

Adakah yang aneh dari pernyataan Dahlan di atas ? Bisa ya, bisa tidak. Mancing memang tidak dilarang, apalagi setelah bekerja keras selama enam hari. Maka untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang, menginjak hari Minggu apa salahnya menyalurkan aktivitas yang disukai: mancing.

Tapi agaknya menjadi tidak enak kedengarannya di telinga Dahlan, manakala mancing dilakukan pas hari kerja, sebagaimana ketika dialog itu berlangsung.

Amang Mawardi jurnalis senior dan penulis, tinggal di Surabaya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.