Wujudkan Toleransi Beragama, Pemkot Surabaya Gelar Perayaan Natal di Balai Kota

waktu baca 3 menit
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan kata sambutan.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sukses menggelar Perayaan Natal di halaman Balai Kota Surabaya, Kamis (11/1) malam. Kegiatan peribadatan ini merupakan pertama kali yang digelar oleh pemkot, sebagai wujud Surabaya kota toleransi yang menjunjung tinggi keberagaman. 

Bahkan, lebih dari 7.500 jemaat hadir dan memenuhi segala sisi halaman Balai Kota Surabaya. Hal ini tentunya melampaui prediksi Pemkot Surabaya yang semula diperkirakan hanya dihadiri oleh 6.000 jemaat.

Suasana gegap gempita penyembahan dan pujian dalam Perayaan Natal Kota Surabaya pun semakin terasa khidmat. Para jemaat yang hadir mulai hanyut akan prosesi liturgi yang dibawakan oleh para tim pelayanan yang bertugas.

Kegiatan peribadatan diawali dengan penampilan dari umat Kristiani, dan dilanjutkan dengan Perayaan Natal, sekaligus pemberian pesan-pesan Natal oleh RD. Agustinus Tri Budi Utomo, serta pemberian firman oleh Pastor Philip Mantofa.

Perayaan Natal yang digelar di halaman Balai Kota Surabaya, Kamis (11/1) malam.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan rasa bahagianya seusai kegiatan Perayaan Natal. Ia tak menyangka bahwa umat Kristen dan Katolik memenuhi segala sisi Halaman Balai Kota Surabaya. Hal ini menjadi contoh kerukunan dan keberagaman, sekaligus mempertegas Surabaya sebagai kota toleransi.

“Saya bahagia betul malam ini, setelah saya banyak berdiskusi maka kami buat kegiatan ini. Kami ingin menunjukkan bahwa Surabaya adalah kota yang penuh dengan toleransi,” kata Wali Kota Eri.

Tak hanya Perayaan Natal, Wali Kota Eri berencana menggelar berbagai kegiatan perayaan hari besar lainnya sebagai agenda tahunan Pemkot Surabaya. Kegiatan perayaan peribadatan itu, nantinya akan digelar di Halaman Balai Kota Surabaya. Sebab, baginya, Balai Kota Surabaya adalah milik warga Surabaya, sekaligus milik seluruh umat beragama.

Umat Krisren dan Katolik yang memadati halaman Balai Kota Surabaya di malam Perayaan Natal.

“InsyaAllah setiap peringatan hari besar umat beragama akan kita adakan di Balai Kota Surabaya. Baik umat Budha, Hindu, Kristen, Katolik, Konghucu, dan Islam, kami akan adakan di Kota Surabaya dan di Balai Kota ini,” jelasnya.

Jika dahulu setiap memasuki perayaan hari besar keagamaan pemkot hanya memasang hiasan berupa simbol agama tertentu, maka mulai saat ini, Wali Kota Eri memberikan ruang bagi seluruh umat beragama untuk merayakan hari besar mereka di halaman Balai Kota Surabaya.

“Sekarang tidak simbol lagi. Selain simbol, kami juga akan mengadakan perayaan di tempat ini (Balai Kota Surabaya) dan kami akan lakukan setiap tahun. Ini sebagai wujud toleransi di Surabaya,” tegasnya.

Sementara itu, Pastor Gereja Mawar Sharon (GMS) Surabaya Barat, Philip Mantofa menyampaikan rasa bangganya atas inisiatif dan kepedulian Wali Kota Eri Cahyadi menjadi trend center atau sebagai penggerak kegiatan Perayaan Natal Kota Surabaya.

“Mewakili umat Kristen dan Katolik di kota ini, saya sangat terharu melihat inisiatif Wali Kota Eri dan Pemkot Surabaya. Ini sangat mulia, dan saya percaya ini adalah hasil doa dari penduduk Surabaya,” kata Pastor Philip Mantofa.

Menurutnya, hal ini merupakan contoh nyata Wali Kota Eri yang merangkul semua masyarakat di Kota Pahlawan, serta tidak mengabaikan apapun. Baik dari sisi agama, profesi, dan usia. Ia pun turut mendukung langkah Wali Kota Eri yang akan menggelar perayaan hari besar keagamaan lainnya di Halaman Balai Kota Surabaya.

“Hari ini kita bisa melihat bahwa tidak ada yang diabaikan, setiap aspirasi disampaikan. Betapa indahnya saat kita bersama-sama, saling mendukung, dan saling mengasihi,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, RD. Agustinus Tri Budi Utomo asal Gereja Katolik Sakramen Maha Kudus Kota Surabaya menyampaikan bahwa keberanian dan kepedulian Wali Kota Eri dalam menggelar Perayaan Natal di Halaman Balai Kota Surabaya patut di apresiasi.

“Keberanian dan kerendahan hati Pak Wali layak kita apresiasi, sampai 7.500 lebih jemaat hadir. Artinya mereka semua (jemaat) rindu dan merasa memiliki Kota Surabaya dan Balai Kota. Ini adalah wujud gambaran dari wajah Surabaya yang damai, toleran, dan harmonis,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *