Puisi Minggu Ini: Rudi Isbandi

waktu baca 3 menit
Rudi Isbandi (*)

KEMPALAN: Pelukis besar yang penyair ini, tidak segan bergabung dengan para penyair lebih muda. Bahkan beberapa puisinya ikut dalam barisan Malsasa (Malam Sastra Surabaya), dan ikut tampil bacakan puisinya. Ampuh tenan! Maka tidaklah komplit, tanpa memuat karya-karya puisi Rudi Isbandi. Berikut ini beberapa puisi beliaunya.

Rudi Isbandi – KALIMAS 

Antara kebenaran dan kerancuan rindu 

ceritakan nimas, mana sementara mana kekal 

yang mesti tergenggam. Aku akan setia memilih yang mengalir dari hulu. Yang purna darimu 

Karena pencemaran selalu terjadi 

tatkala keinginan datang tak terkendali 

Kalimas sayang, alirmu mimpiku terendam 

mengalir bersama suka duka ke muara

Banyak kujumpa orang di jalan mengarahkan pandang 

tapi tak melihat sesuatu 

berbicara banyak tapi tak mengatakan sesuatu 

dan bekerja lama, namun tak memperkaya apa-apa 

Ceritakan nimas, ceritakan bahwa tak pernah 

keangkuhan mengasorkan lembah hati 

serta munafik mengungguli kejujuran

Banyak ku jumpa di jalan degup hati terbunuh 

deru mesin. Nurani jadi bebal seketika 

dan malu disimpan di belakang pintu rumah 

Ceritakan nimas, ceritakan bahwa tak pernah 

ada tempat, eaktu dan peristiwa

tanpa kehadiran dan pengetahuanmu

Dalam genggaman kepastianmu 

gumpalan awan nisbi berlayar 

menjadi gelombang yang tidak dimengerti 

Di atas langitnya langit kesabaran 

ceritakan nimas, ceritakan bahwa tak pernah 

ada nikmat selain nikmatnya menerima isyaratmu

(Maret, 1985) 

Rudi Isbandi – TIGA MUSIM DI SURABAYA

Bunga-bunga krokot di halaman 

bunga-bunga kehidupan sepanjang zaman 

dengan warna violeta ia songsong 

mentari tanpa dengki dan tinggi hati 

Di Surabaya sekarang ada tiga musim 

musim penghujan musim kemarau dan musim gugur 

memang pada saatnya segala yang ada mesti gugur

Pakde di Pandegiling Bulik di Kaliasin 

tahun ini harus angkat kaki bersama yang lain 

Pak Abu di Keputran dan Mbah Rena di Wonokromo 

bersama tetangga ikhlaskan tanah warisan 

yang telah menyatu selama tiga zaman penjajahan 

konon demi pembangunan yang penuh harapan 

Di tengah hari matahari terjungkal dari langit 

menggelinding lewat gigir jalanan aspal 

Surabaya tengah didandani seperti tunasusila 

menunggu zaman baru yang penuh gemerlap

Bunga-bunga krokot di halaman 

bunga-bunga kehidupan sepanjang zaman 

dengan warna violeta ia songsong 

mentari tanpa dengki dan tinggi hati 

Sementara bulan terus bergulir 

di angkasa langit berbintik-bintik SDSB 

di mulut gang setiap Rabu malam orang-orang 

bergerombol di teras dan halaman 

Qmenunggu nomor keluar yang membawa harapan

Bunga-bunga krokot di halaman 

bunga-bunga kehidupan sepanjang zaman 

orang-orang kecil selamanya tahan 

selamanya jadi sasaran, tapi 

takkan pernah tenggelam

(Januari, 1990) 

ditulis oleh: Aming Aminoedhin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *