Puisi Minggu Ini: Rudi Isbandi
KEMPALAN: Pelukis besar yang penyair ini, tidak segan bergabung dengan para penyair lebih muda. Bahkan beberapa puisinya ikut dalam barisan Malsasa (Malam Sastra Surabaya), dan ikut tampil bacakan puisinya. Ampuh tenan! Maka tidaklah komplit, tanpa memuat karya-karya puisi Rudi Isbandi. Berikut ini beberapa puisi beliaunya.
Rudi Isbandi – KALIMAS
Antara kebenaran dan kerancuan rindu
ceritakan nimas, mana sementara mana kekal
yang mesti tergenggam. Aku akan setia memilih yang mengalir dari hulu. Yang purna darimu
Karena pencemaran selalu terjadi
tatkala keinginan datang tak terkendali
Kalimas sayang, alirmu mimpiku terendam
mengalir bersama suka duka ke muara
Banyak kujumpa orang di jalan mengarahkan pandang
tapi tak melihat sesuatu
berbicara banyak tapi tak mengatakan sesuatu
dan bekerja lama, namun tak memperkaya apa-apa
Ceritakan nimas, ceritakan bahwa tak pernah
keangkuhan mengasorkan lembah hati
serta munafik mengungguli kejujuran
Banyak ku jumpa di jalan degup hati terbunuh
deru mesin. Nurani jadi bebal seketika
dan malu disimpan di belakang pintu rumah
Ceritakan nimas, ceritakan bahwa tak pernah
ada tempat, eaktu dan peristiwa
tanpa kehadiran dan pengetahuanmu
Dalam genggaman kepastianmu
gumpalan awan nisbi berlayar
menjadi gelombang yang tidak dimengerti
Di atas langitnya langit kesabaran
ceritakan nimas, ceritakan bahwa tak pernah
ada nikmat selain nikmatnya menerima isyaratmu
(Maret, 1985)
Rudi Isbandi – TIGA MUSIM DI SURABAYA
Bunga-bunga krokot di halaman
bunga-bunga kehidupan sepanjang zaman
dengan warna violeta ia songsong
mentari tanpa dengki dan tinggi hati
Di Surabaya sekarang ada tiga musim
musim penghujan musim kemarau dan musim gugur
memang pada saatnya segala yang ada mesti gugur
Pakde di Pandegiling Bulik di Kaliasin
tahun ini harus angkat kaki bersama yang lain
Pak Abu di Keputran dan Mbah Rena di Wonokromo
bersama tetangga ikhlaskan tanah warisan
yang telah menyatu selama tiga zaman penjajahan
konon demi pembangunan yang penuh harapan
Di tengah hari matahari terjungkal dari langit
menggelinding lewat gigir jalanan aspal
Surabaya tengah didandani seperti tunasusila
menunggu zaman baru yang penuh gemerlap
Bunga-bunga krokot di halaman
bunga-bunga kehidupan sepanjang zaman
dengan warna violeta ia songsong
mentari tanpa dengki dan tinggi hati
Sementara bulan terus bergulir
di angkasa langit berbintik-bintik SDSB
di mulut gang setiap Rabu malam orang-orang
bergerombol di teras dan halaman
Qmenunggu nomor keluar yang membawa harapan
Bunga-bunga krokot di halaman
bunga-bunga kehidupan sepanjang zaman
orang-orang kecil selamanya tahan
selamanya jadi sasaran, tapi
takkan pernah tenggelam
(Januari, 1990)
ditulis oleh: Aming Aminoedhin






