Jumat, 17 April 2026, pukul : 10:17 WIB
Surabaya
--°C

Cerpenis itu Bernama M. Shoim Anwar

KEMPALAN: Pada penghujung bulan Mei lalu, tepatnya 30 Mei 2023, saya sempat mampir dolan ke rumah sastrawan yang cerpenis handal di Jawa Timur, bernama Shoim.

Nama lengkapnya M. Shoim Anwar, kelahiran di desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 16 Mei 1963. Sehari sebelumnya, juga ketemu dalam parade Baca Puisi di Unusa Surabaya, baca puisi bersama Taufiq Ismail dan D. Zawawi Imron.

Saat itu siang teramat panasnya, usai penjurian lomba baca puisi di Kantor BNN Jatim yang beralamat dekat rumahnya tersebut; Shoim mengajak mampir rumahnya. Sungguh, sebuah kunjungan silaturahmi yang menyenangkan hati. Bisa melihat dari dekat rumah cerpenis yang ampuh ini.

Rumah yang di ruang depannya ada galeri. lukisan-lukisannya sendiri, serta kliping koran yang dibingkai dalam pigura. Beberapa lukisan lain ada juga dipajang di ruang tengah dan lantai dua yang berisi koleksi buku-bukunya. Sementara ruangan samping dan di atasnya, ada banyak burung-burung koleksinya.

Mampir rumah Shoim bersama Cak Much Khoiri, sungguh senang dan bisa cerita sastra kian malang-melintang. Dari sastra negeri Ketintang hingga soal sastra Unesa di Lidah Wetan. Sambil minum kopi, suguhan jajan lebaran dan jeruk manis.

M. Shoim Anwar menikah dengan Setyowati, yang kini Kepala SMP Negeri 4 Surabaya, dan punya 2 anak: Bilawal Alhariri Anwar dan Dzikri Sabillah Anwar. Kini tinggal berdua di Lontar – Sambikerep ini, karena anaknya sudah berumah-tangga sendiri.

Sebelumnya ini, Shoim berumah di Jalan Tandes Kidul 10 Surabaya, dan kini pindah rumahnya baru Jalan Bumi Indah 26 Lontar, Sambikerep, Surabaya. Melalui rumahnya di jalan Tandes tersebut agaknya mempunyai andil dalam terciptanya cerita bersambung “Tandes” yang pernah dimuat di harian Jawa Pos tahun 1993.

Selain handal menulis cerpen, M. Shoim Anwar, juga menulis cerita bersambung “Tandes” yang pernah dimuat di harian Jawa Pos 1993. Punya hobby lain, yaitu melukis dan memelihara burung. Hobby-nya memelihara burung bisa mengilhami ia menulis cerita pendek berjudul “Sang Guru dan Perkutut.”

Tokoh sastra kita, Shoim Anwar tercatat sebagai pengarang era 80-an. Shoim Anwar sangat produktif dalam berkarya. Suripan Sadi Hutomo (almarhum) menyebutnya sebagai pengarang yang berkaliber internasional, bersama Budi Darma, Muhammad Ali, Zawawi Imron, dan Moes Loindong (almarhum).

Sedangkan Zawawi Imron mengatakan bahwa membaca cerpen-cerpen Shoim Anwar, sebuah peristiwa yang remeh tiba-tiba menjadi hidup dan menarik karena ketepatan ia memilih kata-kata dan kemudian menyusunnya menjadi kalimat-kalimat yang hidup.

Baca cerpen M. Shoim Anwar tampak menyuarakan masalah kritik sosial adalah hal yang wajar. Karena Shoim Anwar memang hidup di era orde baru yang sarat bersentuhan dengan masalah sosial, politik, ekonomi, moral, dan sebagainya.

Kritik sosial yang dimunculkan dalam cerpen-cerpen Shoim banyak berbicara tentang ketidakberdayaan masyarakat kelas bawah menghadapi birokrasi penguasa saat itu. Selain itu Shoim Anwar memang memiliki sense of social yang tinggi.

Oleh sebab itu, melalui cerpen-cerpennya ia tidak hanya mencoba memberikan peringatan atau nasihat kepada pembaca, tetapi juga melakukan protes atas peristiwa ketidakberesan yang terjadi di masyarakat.

M. Shoim Anwar yang dalam kancah kegiatan dunia kreatif yang kompetitif menulis, dibuktikan dengan terpilihnya cerpen-cerpen Shoim, sebagai juara dalam beberapa sayembara mengarang atau menulis cerpen tingkat nasional.

Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Oknum (19920, Musyawarah Para Bajingan (1993), Limau Walikota (1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (1995), Bermula dari Tambi (1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (2001), dan banyak lagi.

Berhasil dan tidaknya sebuah karya sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa. Ide yang cemerlang tetapi dituangkan dengan bahasa yang jelek, maka akan menjadi karya yang tidak menarik.

Di sinilah kebanyakan kegagalan para pengarang. Shoim Anwar tentu saja harus ekstra selektif dalam merakit bahasa, terutama pada halaman-halaman awal. Cerita sastra yang bagus tentu bahasanya lancar, mudah ditangkap, serta kaya idiom-idiom baru. Dan setiap pengarang ditantang untuk menciptakan idiom atau ungkapan, dan itu membutuhkan keberanian dengan tanpa mengorbankan masalah komunikasi dengan pembaca.

Kini M. Shoim Anwar yang doktor sastra itu, masih mengajar di Unipa (Universitas PGRI Adi Buana) Surabaya, sebagai dosen sastra. Doktor Shoim itu berkali-kali jadi narasumber bedah buku; termasuk antologi puisi Malsasa (Malam Sastra Surabaya) atau Gurit Bandha Donya. M. Shoim Anwar hingga kini juga masih menulis cerpen, meski tak seproduktif tahun-tahun 1980-1990-an.

(Aming Aminoedhin).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.