
KEMPALAN: Politisi loncat pagar pindah haluan adalah cerita lama. Politisi yang menyeberang dari satu kubu ke kubu lainnya juga cerita basi yang sangat sering terjadi. Abdillah Toha, politisi senior yang pernah ikut mendirikan PAN (Partai Amanat Nasional), ialah salah satu contoh terbaru politisi yang melakukan U-Turn alias putar balik.
Belum lama ini dia dikenal sebagai pemuja Jokowi. Dia masuk dalam kategori ‘’die hard’’ pendukung garis keras Jokowi. Siapapun yang melawan Jokowi akan dia hadapi. Bahkan, pada 2019 Amien Rais, yang nota bene koleganya sendiri sebagai pendiri PAN, didesaknya untuk mundur karena mendukung Prabowo lawan politik Jokowi.
Sekarang kondisi berbalik. Abdillah Toha balik kanan. Dulu memuja sekarang mencela. Ia menulis surat terbuka yang berisi kritik keras terhadap Jokowi. Dari ujung atas sampai ujung bawah tidak satu pun kebaikan Jokowi di mata Abdillah Toha. Kondisi ini berbalik 180 derajat pada 2014 ketika Abdillah Toha memuja Jokowi dengan mengemukakan 10 alasan mengapa ia mendukung Jokowi.
Dulu Jokowi digambarkan seperti malaikat, sekarang mungkin lebih mirip setan.
Dalam setahun terakhir ini, Jokowi disebutnya tidak lagi konsentrasi pada pekerjaan utama yang dimandatkan rakyat, tetapi telah bermanuver untuk merusak demokrasi.
Abdillah Toha menyebut bahwa Presiden Joko Widodo sedang bermanuver untuk merusak demokrasi. Manuver tersebut berupa cawe-cawe berusaha melakukan pembatasan jumlah calon presiden oleh undang-undang dan berbagai perilaku aib yang membahayakan demokrasi.
Manuver politik yang dilakukan oleh anak buah Jokowi di Istana tidak mungkin dilakukan tanpa restu Jokowi. Abdillah Toha mengingatkan Jokowi supaya bisa husnul khatimah dan terhindar dari su’ul khatimah.
Sekadar untuk menyegarkan ingatan publik, pada 2014 Abdillah Toha ini adalah pendukung Joko Widodo sebagai capres bersama Jusuf Kalla sebagai cawapres. Abdillah Toha masuk dalam kelompok pendukung Jokowi garis keras. Ia mengeluarkan daftar 10 alasan mengapa ia mendukung Jokowi. Ke-10 alasan itu benar-benar perfek dan tidak ada cacat sama sekali. Di mata Abdillah Toha Jokowi adalah ‘’The Perfect Ten’’.
Inilah 10 poin Abdillah Toha yang memuja Jokowi seperti dewa.
Pertama, Jokowi tidak tercela. Dia tidak punya beban masa lalu yang berpotensi mengganggu tugasnya sebagai presiden. Dia telah terbukti jujur dan bersih, serta tulus, dan terbuka. Di tangan orang bersih seperti inilah kita seharusnya lebih memercayakan program pemberantasan korupsi yang telah menggerogoti negeri ini selama berpuluh tahun.
Kedua, Jokowi berprestasi. Tidak diragukan lagi bahwa Jokowi telah menunjukkan prestasi kerja masa lalu yang meyakinkan. Sebagai wali kota Solo, dia adalah salah satu kepala daerah terbaik di negeri ini, bahkan mungkin di dunia. Kepentingan rakyat didahulukan sehingga ketika terpilih kembali sebagai wali kota untuk periode kedua, dia mendapatkan dukungan tidak kurang dari 90% pemilih. Sebagai Gubernur DKI Jakarta dia telah menununjukkan hasil kerja yang bagus dengan merancang dan sekaligus mengimplementasikan beberapa program pro rakyat dengan cepat dan tanpa ragu.
Ketiga, Jokowi bukan pengurus partai. Sebagai presiden RI dia tidak akan disibukkan dengan rapat-rapat dan persoalan partai sehingga perhatiannya tidak akan terbelah dan dapat memusatkan pikirannya kepada kerja negara. Permintaan ketua umum PDIP kepadanya untuk menjadi petugas partai harus diartikan sebagai imbauan untuk menjalankan ideologi partai.
Keempat, Jokowi pengambil keputusan. Gayanya yang lemah lembut mengelabui kita seakan dia seorang pemimpin yang tidak tegas. Padahal dia sangat tegas. Ketegasan seseorang tidak dicerminkan oleh cara bicaranya yang keras dan meledak-ledak.
Kelima, Jokowi pluralis. Jokowi seorang Muslim yang taat, tetapi juga sangat toleran terhadap mereka yang beragama dan berkeyakinan lain. Dia telah membuktikan sebagai pemimpin pluralis yang membela dan melindungi hak minoritas dan berkomitmen menjaga kebinekaan bangsa demi keutuhan NKRI.
Keenam, Jokowi bukan pedagang politik. Walaupun dia berlatar belakang seorang pengusaha, tapi urusan kursi pemerintahan tidak diperdagangkannya. Sejak awal dia telah mengatakan bahwa prinsip koalisinya non-transaksional. Artinya, dia tidak akan membagi-bagikan posisi kabinet hanya atas dasar garis partai tetapi mencari dan menempatkan the right man in the rght place.
Ketujuh, Jokowi penyelesai konflik. Hal ini telah dibuktikannya berkali-kali baik di Solo maupun di DKI. Keunggulannya terletak pada cara penyelesaian yang damai tanpa menimbulkan kerusuhan dan keresahan, karena rakyat kecil korban penyelesaian tidak diabaikan begitu saja tetapi ditampung atas tanggungan pemerintah.
Kedelapan, Jokowi reformis. Sangatlah menonjol ketika belum sampai 2 tahun menjabat gubernur DKI dia telah berhasil membobol kebiasaan-kebiasaan lama birokrasi yang cenderung koruptif dan tidak efisien. Jokowi seorang demokrat tulen yang tidak percaya kepada kekuatan uang untuk memenangkan pemilihan.
Kesembilan, Jokowi sederhana dan hemat. Dia bukan orang yang gila hormat. Tidak pandai berbicara tetapi santun. Bukan pendendam dan tidak pernah melayani kampanye hitam terhadapnya.
Kesepuluh, Jokowi kepala keluarga sakinah. Keluarga Jokowi dikenal sebagai keluarga yang bahagia. Istrinya, Iriana, seorang wanita yang sederhana dan tidak banyak menuntut. Ketiga anaknya adalah anak-anak idaman setiap orang tua. Berpendidikan cukup dan yang sulung seorang pengusaha katering yang tidak mau menggantungkan sumber permodalannya dari orang tuanya.
Abdillah Toha bisa malu sendiri kalau membaca ulang manifesto politiknya itu. Sekarang kelihatannya dia sudah insaf dan menyadari bahwa 10 poin itu tidak ada satu pun yang benar. Mungkin Abdillah Toha ingin membuat pengakuan dosa dengan menulis surat terbuka itu.
Ada yang kurang dari surat terbuka itu. Harusnya, di akhir surat dia menulis NB: Saya cabut 10 poin alasan mendukung Jokowi yang saya tulis pada 2014. Atau, dia ‘’ngetag’’ Amien Rais, ‘’Sorry bro, gue salah, loe yang betul’’. ()

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi