Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 07:58 WIB
Surabaya
--°C

Desa Cendekia, Why Not??!

OLEH: Ulul Albab, (Ketua ICMI Jatim)

Banyak pertanyaan yang ditujukan ke saya yang bahasanya kalo diredaksikan ulang kira-kira bunyinya begini : “Mengapa ICMI periode sekarang bicara desa?”

Rata-rata yang bertanya itu sebetulnya agak sedikit “menggugat” ICMI periode sekarang yang dianggap kurang terlibat pada isu-isu politik.

Dengan membandingkan masa awal kelahiran ICMI dibawah kepemimpinan pak Habibie, ICMI periode sekarang dianggap seperti mati suri karena tidak terlihat di panggung politik.

Sebetulnya jika mereka terlibat langsung aktif di ICMI, insyaalloh tidak sampai berkesimpulan seperti itu. Karena ICMI dalam banyak hal sesungguhnya berkontribusi dalam membangun perpolitikan nasional, khususnya dalam pengembangan demokrasi yang berkualitas.

Hanya memang ICMI tidak mengambil peran dalam dukung mendukung kandidat. Sebagai unsur Civil Society, ICMI memposisikan diri sebagai partner (sekaligus pengontrol yang konstruktif) pemerintah dalam menciptakan good governance.

ICMI tidak memposisikan diri sebagai oposisi layaknya partai, karena ICMI memang bukan partai politik. Bahkan secara individual tokoh-tokoh dan anggota ICMI berada tersebar di hampir semua partai politik yang ada. Tapi secara institusi dan organisasi ICMI adalah netral.

Maka ketika di periode tahun 2022-2026 ICMI punya program “Pengembangan Desa Cendekia”, dianggaplah sebagai sebuah pergeseran yang perlu dipertanyakan.

BACA JUGA  Adopsi Sukses IVCA Rally 2026, Bumi Jenggolo III Siap Guncang Sidoarjo dengan 10 Ribu Onthelis Mancanegara

Oke. Khusus tentang hal tersebut akan saya ungkapkan secara khusus dalam tulisan lain. Kali ini saya ingin memberikan reasening yang logik tentang mengapa ICMI bicara “desa”.

Desa Itu Masa Depan

Bayangkan sebuah negeri tanpa desa. Pastilah negeri itu amat tergantung kepada negara lain. Terutama dalam urusan pasokan kebutuhan bahan makanan rakyatnya.

Maka beruntunglah Indonesia yang 70-80% wilayahnya adalah desa. Semua bahan makanan yang dibutuhkan tersedia, tumbuh dan berkembang di desa. Mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, bahkan tambang sumur minyak dan pertambangan penting lainya ada di desa.

Potensi dan aset penting tersebut disamping harus disyukuri, pastilah juga harus dirawat dengan baik. Bahkan harus dikembangkan dengan pola dan cara yang dapat semakin meningkatkan nilai tambah, baik bagi ekonomi negara, maupun (dan terutama) bagi masyarakat desa itu sendiri.

Dengan demikian maka desa tak boleh dianggap remeh. Justru desa menjadi faktor kunci keberhasilan dalam membangun negara.

Dalam perspektif inilah maka ICMI mengembangkan program “Desa Cendekia”. Sebuah program yang diarahkan untuk menjadikan “Desa adalah Masa Depan”, yang karenanya desa harus menjadi prioritas pembangunan, baik dalam bidang infrastruktur, peningkatan akses dan keahlian manajemen, maupun (dan terutama) peningkatan SDM nya.

BACA JUGA  Mengapa NPD Tak Suka di Rumah ?

Program desa cendekia adalah sebuah ikhtiar ICMI bersama-sama pemerintah daerah dan elemen penting masyarakat lainya, untuk melakukan edukasi, pengembangan, pendampingan dan advokasi kepada masyarakat desa, agar mereka terus menerus meng-upgrade pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dalam meningkatkan nilai tambah potensi dan kekayaan alam desa.

Bukan Sekadar SDM Unggul

Program desa cendekia dengan demikian tidak saja mengurus peningkatan SDM unggul di desa, tetapi juga menjadikan masyarakat desa bangga terhadap dirinya yang disebut sebagai orang desa (wong ndeso). Karena stigma negatif dalam sebutan “Wong Ndeso” sudah tak ada lagi, bahkan justru banyak orang kota yang belajar ke desa. Termasuk para investor.

“Core bisnis” ICMI adalah membangun dan mengembangkan kecendekiawanan. Kecendekiawanan bidang apa saja. Ya akademik, ekonomi bisnis, sosial, budaya dan apa saja.

Kuncinya adalah menjadikan SDM di seluruh elemen dan pranata sosial yg ada, menggunakan ilmu dan kecerdasannya dalam menjalankan tugasnya sebagai individu, sebagai keluarga, sebagai anggota masyarakat, dan juga sebagai unsur penting bangsa.

Ujung dari pengembangan kecendekiawanan adalah pengakuan bahwa tiada satupun ciptaan Allah yang sia-sia. Maka bertasbihlah mereka. Dalam alquran dikatakan bhw mereka ini pada akhirnya bertasbih dengan mengucap “Subhanaka faqina ‘adzabannar” (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.