Dalam menyalurkan pinjaman, Pegadaian memberlakukan system penjaminan asset. Taksiran nilai jaminan gadai (riel) pasti lebih besar dibandingkan dana pinjaman yang akan diterima nasabah.
Saya beberapa kali menggadaikan emas untuk modal kerja. Setiap kali mengajukan pinjaman, saya hanya menerima 80 persen dari nilai emas batangan yang saya ‘’sekolahkan’’. Itu pun sudah melalui negosiasi alot dengan manajer kantor. Pakai drama Korea dengan memasang mimik sedih segala.
Kalau nasabah tidak menebus, Pegadaian akan melelang barang jaminan. Kalau laku terjual, Pegadaian pasti untung. Ibarat bertani, Pegadaian tidak punya risiko gagal panen. Paling sial hanya waktu penjualan hasil panennya molor.
Bagaimana dengan kasus potensi gagal bayar perusahaan investasi berbasis fintech itu? Melihat portofolionya, beberapa proyek agrobisnis itu memiliki masa panen yang melampaui tenor pinjaman/investasi.
Ambil contoh, proyek budidaya jeruk lemon di Malang, Jawa Timur, dengan nilai investasi ratusan miliar rupiah. Jeruk lemon baru ‘’belajar panen’’ pada usia 24 bulan sejak ditanam. Jumlah produksi panen per pohon akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan kesehatan pohon itu.
Sekarang kita lihat tenor pinjaman modal dari investor. Ternyata tenornya pendek: Antara 2 bulan – 9 bulan. Artinya, pada saat pinjaman itu jatuh tempo, proyek budidaya belum menghasilkan revenue. Darimana sumber mana lagi pinjaman akan dilunasi?

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi