Kita pernah hidup dalam zaman tanpa sekolah, tetapi hidup kita itu tidak kalah terpelajar, terutama karena kita diberi banyak kesempatan membaca. Banyak sekolah gagal menumbuhkan budaya membaca.
Oleh: Daniel Mohammad Rosyid
KEMPALAN: Belajar (itu) adalah sebuah proses emergent yang seringkali tidak direncanakan. Yang direncanakan adalah propaganda.
Jika propaganda itu massal, memaksa, sistemik, top down, seragam, dan teacher-centered ini disebut schooling atau persekolahan. Persekolahan tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Apalagi untuk membangun jiwa merdeka. Ia adalah instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga kerja yang cukup trampil menjalankan mesin-mesin, sekaligus cukup dungu untuk berdisiplin dan setia bekerja siang-malam untuk kepentingan pemilik modal. No more no less.
Belajar tidak pernah mensyaratkan formalisme dan birokrasi pendidikan seperti sekolah. Sekolah diada-adakan untuk keperluan industrialisasi. Dia anak kandung revolusi industri 200 tahun lalu. Sebagai konsep, schools are outdated.
Sudah kadaluwarso. Apalagi pada zaman internet. Namun karena disponsori oleh pemerintah selama bertahun-tahun, banyak orang yang tak bisa membayangkan hidup tanpa sekolah. Tidak sekolah nyaris langsung dianggap tidak terdidik, tidak kompeten, dan kampungan.
Pendidikan seharusnya dirumuskan sebagai upaya perluasan kesempatan belajar, bukan perluasan sekolah. Justru sekolah menjadikan belajar sebagai barang yang langka.
Salah satu penciri khas manusia sebagai spesies adalah kemampuannya untuk belajar. Manusia tidak hanya hidup di ruang nyata, dia juga hidup di ruang simbol. Homo simbolicum. Binatang belajar, tapi sangat terbatas.
Belajar adalah sebuah proses individual untuk memaknai pengalamannya. Dia bersifat pribadi. Pengalaman adalah prasyarat untuk belajar. Lalu dilanjutkan dengan berbicara, membaca dan menulis. Morfologi jemari manusia diciptakan untuk memegang pena. Jemari binatang tidak.
Sekolah perlu direposisi perannya dalam sistem pendidikan. Sekolah tidak boleh berusaha terlalu keras untuk memberi pesan dan kesan sebagai satu-satunya tempat belajar. Tempat belajar terbaik adalah keluarga dan masyarakat.
Sekolah hanya melengkapi saja. Seperti makan siang. Sarapan dan makan malam yang beragam harus disediakan keluarga dan masyarakat.
Kita pernah hidup dalam zaman tanpa sekolah, tetapi hidup kita itu tidak kalah terpelajar, terutama karena kita diberi banyak kesempatan membaca. Banyak sekolah gagal menumbuhkan budaya membaca.
Perpustakaan di banyak sekolah ditempatkan di tempat yang tidak strategis dan sulit dijangkau. Yang dipentingkan di banyak sekolah adalah latihan-latihan soal. Sekolah dikerdilkan menjadi lembaga bimbingan belajar agar lulus ujian atau lolos seleksi masuk perguruan tinggi.
Sekolah harus berubah. Jika tidak sekolah akan segera jadi museum dan guru menjadi dinosaurus.
*) Daniel Mohammad Rosyid, @Rosyid College of Arts, Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS, PTDI Jawa Timur

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi