Putri ditanya hakim lagi, soal peristiwa pembunuhan Yosua di rumah dinas Duren Tiga. Pada saat Yosua dihujani tujuh tembakan (enam peluru keluar lagi, satu bersarang di tubuh Yosua). Ketika itu Putri ada di dalam kamar, berjarak sekitar tiga meter dari lokasi penembakan.
Hakim: “Ketika Saudara ada di Duren Tiga, ada tembak-menembak (skenario Sambo) itu Saudara melihat?”
“Saya tidak memastikan. Hanya itu terjadi letusan.”
“Saudara menangis?”
“Saat mendengar letusan, saya menangis. Karena saya tidak tahu ini ada apa?”
BACA JUGA: Bom Panci di Bandung Ada yang Busung
“Lho… Saudara mengatakan tidak tahu ada apa, tapi kok menangis? Tidak tahu, kok menangis? Apakah menangis bagian dari skenario? Kapan Saudara mengetahui itu skenario?”
“Tanggal 9 Juli. Diberitahu Pak Sambo.”
Di sidang itu Putri diombang-ambingkan pertanyaan-pertanyaan yang menguji logika. Dari jawaban-jawaban Putri, kelihatan dia terjebak menuju kondisi sesungguhnya di lapangan saat kejadian. Juga terjebak soal topik perkosaan.
Uniknya, di sidang tersebut pada bagian tertentu, hakim menyatakan, sidang tertutup untuk umum. Sidang tertutup berlangsung sekitar setengah jam.
Menurut hakim, sidang di segmen tertentu itu dinyatakan tertutup, sebab terkait kejadian Putri di dalam kamar di rumah Magelang. Materinya asusila, atau terkait seks. Dan, hasil sidang tidak diungkap ke publik.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi