Perang terakhir Iran untuk bisa menembus babak 16 besar akan ditentukan dalam pertandingan hidup mati melawan Amerika Serikat. Ini akan menjadi pertandingan yang sarat dengan gengsi politik. Dua negara itu dikenal sebagai musuh bebuyutan dalam setengah abad terakhir.
Di lapangan, pertandingan akan seru karena Amerika punya pemain-pemain hebat seperti Christian Pullisic. Tetapi, Iran punya kolektivitas tim dan semangat juang yang lebih tinggi dari Amerika Serikat. Kalau Iran bisa lebih berkonsentrasi ke lapangan dan suporternya bisa bersatu, tidak mustahil Iran akan mencatat sejarah emas dengan lolos ke babak perdelapam final.
Iran akan berperang all out melawan Amerika. Pada masa lalu Iran adalah negara satelit Amerika dan disebut sebagai boneka Amerika semasa kekuasaan dinasti monarki Shah Iran. Pada 1979 revolusi Islam Iran yang dipimpin pemimpin Syiah Ayatullah Khomaini berhasil menjatuhkan kekuasaan Shah yang didukung penuh oleh Amerika.
BACA JUGA: Iran
Shah terguling dan kemudian melarikan diri mengungsi bersama keluarganya ke Amerika Serikat. Sejak itu Iran menjadi musuh ideologis dan politis paling keras bagi Amerika. Sampai sekarang pun Amerika masih tetap menerapkan embargo perdagangan terhadap Iran. Amerika berusaha keras mengisolasi Iran di pergaulan internasional. Tetapi Iran tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk kepada tekanan Amerika Serikat.
Semangat revolusi Iran benar-benar kokoh dan tidak pernah luntur. Pertandingan Iran vs Amerika di Piala Dunia ini akan menjadi ajang palagan mempertaruhkan gengsi politik dan peradaban. Amerika harus waspada terhadap semangat revolusi Iran. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi