Lalat di jasad, makan jaringan tubuh mati. Kemudian bertelur di situ. Lima hari kemudian telur menetas jadi belatung.
Jutaan belatung itu juga makan jaringan tubuh yang mati. Lalu membesar. Gemuk-gemuk. Kemudian jadi lalat.
Kurun waktunya, tepat sebulan sejak jadi belatung, berubah jadi lalat. Lalat baru bertelur lagi di situ, sebagai generasi ke dua. “Maka, penelitian belatung akan mengungkap titik waktu kematian,” tulis Karapazarlioglu.
Mayat yang dikubur, juga berbelatung. Jumlah jutaan juga. Bentuk belatungnya beda dengan mayat di tempat terbuka. Kecepatan gerak dan makan kedua jenis belatung ini juga beda.
BACA JUGA: Susun Mozaik di Kematian Sekeluarga Kalideres
Dr Karapazarlioglu menggambarkan tingkat kecepatan kerusakan mayat antara yang dikubur dibanding di ruang terbuka, 1 banding 18.
Karapazarlioglu: “Jaringan tubuh mayat di tempat terbuka, pasti rusak dalam sepuluh hari. Sedangkan tingkat kerusakan yang setara, dicapai pada mayat di dalam kubur pada 180 hari.”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi