Bahan percobaan riset adalah mayat babi. Karena struktur jaringan tubuh babi mirip manusia. Disebut riset entomologi forensik.
Dr Karapazarlioglu: “Ada dua metode untuk menentukan waktu kematian manusia menggunakan entomologi forensik. Meneliti belatung pada mayat. Atau meneliti serangga pada sekitar mayat. Kedua cara ini akan sampai pada kesimpulan yang sama, soal waktu dan penyebab kematian.”
Teknik risetnya, menggunakan mayat dua babi dengan usia dan bobot yang kurang-lebih sama. Jam kematian harus sama, dengan cara dibunuh.
BACA JUGA: Obat Oplosan di Kasus Bayi Gagal Ginjal
Babi yang satu dibiarkan berada di tempat terbuka. Di dalam ruangan, tapi terbuka, tidak di dalam kotak. Juga tidak dikubur.
Babi satu lagi dikubur, tapi dilapisi kaca. Sehingga mayatnya bisa dilihat tim peneliti dari permukaan tanah. Tujuannya, agar tidak sewaktu-waktu membungkar kuburan untuk meneliti perkembangan.
Karena, jika peneliti membongkar kuburan babi, maka merusak struktur mayat. Juga terkontaminasi dengan serangga di luar kuburan. Menimbulkan bias.
Pada mayat di tempat terbuka, lalat akan datang otomatis, paling cepat sejam setelah detik kematian. Sasaran utama yang dituju lalat adalah mata. Kalau di mata sudah terlalu banyak lalat, maka lalat yang datang berikutnya hidung dan mulut. Gerombolan lalat berikutnya ke kuping.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi