Franchise Muhammadiyah

waktu baca 6 menit
Suasana pelaksanaan Sidang Pleno 1 Muktamar Muhammadiyah Aisyiyah di Surakarta, Minggu (6/11/2022). (ANTARA/HO-Muhammadiyah)

KEMPALAN: ADA dua peristiwa yang terjadi hampir bersamaan pekan ini. Muktamar Muhammadiyah dimulai di Solo, Jumat (18/11) dan proses pemilihan ketua sudah dimulai. Suasananya tenang dan teratur. Pada bagian lain, di Tulungagung Jawa Timur. Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di UIN Tulungagung Kamis (17/11) diwarnai kericuhan dan aksi saling lempar kursi.

Dua peristiwa itu tidak ada hubungannya. Tapi, keduanya menjadi pengingat perbedaan tradisi antara dua organisasi besar di Indonesia, NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah. PMII adalah organisasi mahasiswa yang menjadi onderbauw NU. Apa yang terjadi di Tulungagung tidak mencerminkan keseluruhan ‘’tradisi NU’’. Insiden semacam itu bisa terjadi dimana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja.

Tetapi dalam beberapa pelaksanaan muktamar dua organisasi besar itu dinamikanya memang berbeda. Hal itu membuat publik kepo untuk mengetahui apa perbedaan NU dan Muhammadiyah.

Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI Muhammad Jusuf Kalla (JK) menganalogikan NU mirip waralaba atau franchise yang sistemmya dimiliki banyak orang. Pesantrennya dimiliki orang-orang NU, tetapi bukan milik NU.

BACA JUGA: Corcoran G20

Walaupun kepemilikan pesantren dimiliki orang-orang NU, namun sistemnya sudah terkontrol dan teruji. Sementara Muhammadiyah mirip holding company atau perusahaan induk yang menjadi payung bagi operasionalisasi semua aktivitas AUM (amal usaha Muhammadiyah) di seluruh Indonesia. Pengelolaan holding company, seperti sekolah, rumah sakit, universitas, panti asuhan, dan aset-aset lain dalam bentuk property, dilakukan secara profesional dengan prinsip manajemen modern.

Dua organisasi itu sama-sama dilahirkan oleh tokoh-tokoh yang mempunyai latar belakang saudagar. NU lahir di Surabaya oleh K.H Hasyim Asy’ari pada 1926, dan Muhammadiyah lahir terlebih dahulu di Yogyakarta oleh K.H Ahmad Dahlan pada 1912. Dua tokoh ini sama-sama mencecap ilmu keagamaan dari Mekah dari guru-guru yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *