Buku Ady Amar ini mengisi kekosongan itu. Ady Amar menulisnya seperti rangkaian laporan jurnalistik yang sambung-menyambung menjadi episode sejarah yang utuh. Buku ini akan menjadi bagian dari draf sejarah yang penting dalam salah satu episode krusial sejarah Indonesia menuju perubahan.
BACA JUGA: Tak Tumbang Dicerca, Tak Terbang Dipuja, Anies Baswedan dan Kerja-kerja Terukurnya
HRS tidak berhenti. Ia tidak bisa dihentikan. Ia hanya bersandar dan berteduh sejenak untuk bergerak lagi. Seperti diungkap Ahmad Sastra pada epilog: ‘’Terkadang, para pejuang dakwah butuh pohon untuk sekadar bersandar dan berteduh, berhenti sejenak untuk mengatur langkah dan menarik nafas dalam-dalam untuk kembali berlari’’.
Itulah HRS. Ia rehat sejenak, bersandar sejenak. Ia segera berlari lagi memimpin gerakan menuju perubahan. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi