SURABYA-KEMPALAN: Sosok dara jelita Fiki Umatul, Pekerja Migran Indonesia (PMI) Hongkong adalah sosk yang aktif dan kreatif, serta piawai mencipta puisi. “Kalau membuat puisi sudah saya lakukan sejak lulus SMK di Malang,” ungkap Fiki panggilan akrabnya.
Ditanya awal mula menyukai puisi, Fiki mengatakan, “Ya biasa sebagai anak muda, setelah ditinggal pacar, pelampiasan orang patah hati yang paling tepat ya menulis puisi,” tambah Fiki.
Dari ketekunannya dia berhasil menjadi Juara Lomba Cipta Puisi “Kucinta Negeri Kutulis Puisi”.
Dalam lomba Cipta Puisi yang diadakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Hongkong bersama Komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas) Indonesia ini, melalui puisi ciptaannya berjudul “Indonesiaku” Fiki berhasil menyisihkan para finalis lainnya.
BACA JUGA: Catatan Lawas Malsalis dan Langkah Warumas
Fiki mengakui, dalam bidang seni puisi belum pernah mendapatkan prestasi gemilang, meski dirinya sangat menyukai karya puisi. “Saat SMA di Malang (2012) prestasi saya justru di bidang Paskibraka dan ketika di Hongkong mendapatkan amanah menjadi Paskibraka di KJRI Hongkong,” terang Fiki.
Perempuan berusia 25 tahun ini tertarik menjadi PMI di Hongkong tidak terlepas persoalan ekonomi. “Ya saya bersyukur menjadi PMI selain memperoleh pendapatan yang layak juga bisa menggali ilmu bagi masa depan,” ungkap Fiki.
BACA JUGA: Antologi Puisi Warumas: Dari Malsalis hingga Kucinta Negeri Kutulis Puisi
Bagaimana suka duka bekerja di negeri orang? Bekerja di negeri orang terutama di negeri beton ini, orang-orangnya juga harus sekuat beton. ”Disini saya bisa menambah wawasan, pengalaman dan relasi pertemanan yang luas.
Dukanya, saya jauh dari keluarga, kehilangan momen berharga bersama keluarga, dan disini saya harus siap mental dan fisik. Semuanya yang terjadi jawaban dari keputusan saya sebelum berangkat ke luar negeri, jadi saya harus terima konsekuensinya.” (kris mariyono)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi