KEMPALAN: Politisi itu karakternya ada tiga, politisi putih dan politisi hitam serta politisi abu-abu. Politisi putih mengacu pada pemahaman politisi yang baik dan berintegritas.
Mengacu pada jurnal International Transparancy, “Political integrity means exercising political power consistently in the public interest, independent from private interests, and not using power to maintain the office holder’s own wealth and position“.
Politik berintegritas adalah politik yang menggunakan kekuasaan secara konsisten untuk kepentingan publik, merdeka dari kepentingan pribadi dan tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya dirinya sendiri serta tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkuat posisinya.
Sebaliknya politisi hitam dan politisi abu-abu adalah politisi yang berusaha menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kelompoknya, memperkaya diri dan kelompoknya serta menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kelompoknya.
BACA JUGA: Anies-Khofifah Saling Melengkapi dan Berpeluang Memenangkan Pilpres
Politisi hitam dan politisi abu-abu cenderung bekerja pragmatis, segala sesuatu diukur dari keoentingan diri dan kelompoknya dan tak segan menjatuhkan lawan – lawan politiknya yang dianggap berseberangan. Politisi jenis ini adalah politisi yang berpraktik sebagai benalu. Mereka hidup dari bersandar pada kekuasaan yang ada, tak peduli benar atau salah, yang penting mereka bisa dapat uang untuk memperkaya dan memperkuat posisinya. Termasuk dalam kategori jenis ini adalah para buzzer yang kerjanya hanya bersandar pada kekuasaan, bekerja untuk kepentingan kekuasaan, tak ubahnya seperti anjing penjaga majikan. Kerjanya menggonggong dan menggigit mereka yang dicurigai akan menggangu majikannya.
Maslow mengkategorikan ini sebagai jenis manusia yang hanya bisa memenuhi egonya, mematikan superegonya. Kelebihannya bisa membunuh hati nuraninya hanya untuk memenuhi syahwat dasarnya, butuh makan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi