Orang jauh
#51 Anu Abah DI, Minta tolong sampaikan ke Presiden Persebaya (yang Abah DI tahu nanamya): tulisan Rebu-an nya sekarang sering bolos (tgl 21 prei, tgl 28 gak jelas, ehh tanggal 5 ini belum muncul).
Mirza Mirwan
Gas airmata. Itulah yang digunakan polisi saat menangani kerusuhan di Estadio Nacional Lima Peru, 1964, yang menelan korban 328 jiwa. Itu pula yang diandalkan polisi Ghana saat terjadi kerusuhan di Accra Sports Stadium, 2001, yang merenggut nyawa 126 orang. Lagi-lagi gas air mata pula ysng menewaskan (versi Kompas tadi malam yang lengkap dengan nama korban) 131 orang. Dan masih bisa bertambah lagi. Yang terjadi di Peru, juga di Ghana, kerusuhan terjadi sebelum pertandingan usai. Dua-duanya karena kekecewaan suporter salah satu tim terhadap wasit. Di Lima, Peru, saat pertandingan Pra Olimpiade Tokyo antara Peru vs Argentina kedudukan 1-0 untuk Argentina. Di menit 84 Peru bisa menyamakan kedudukan, tetapi gol Peru dianulir wasit dari Uruguay, Angel Eduardo Pazos. Suporter Peru marah, turun ke pinggir lapangan. Polisi menembakkan gas air mata. Penonton kalang-kabut. Pintu stadion tertutup semua — karena pertandingan memang belum berakhir. Kejadian di Ghana juga sama, semua pintu masih tertutup. Lain cerita dengan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan. Pertandingan sudah berakhir. Hanya gegara suporter lari ke lapangan, polisi lsngsung menembakkan gas airmata. Padahal, mustahil suporter Arema mau ngamuk ke pemain klub pujaannya, bahkan pemain klub lawan sekalipun. Dan hanya satu pintu yang dibuka. Padahal dalam regulasi FIFA semua pintu keluar harus sudah dibuka dua menit sebelum pertandingan berakhir.
EVMF
“Peristiwa besar selalu melahirkan pemikiran besar. Bukan mematikan harapan besar.” Ironisnya seringkali “pemikiran besar” itu Tidak Selalu memberikan “harapan besar” ketika kepentingan-kepentingan lain melebihi “peristiwa besar” itu sendiri !! Kalau Harapan Besar itu baru “borojol” setelah didahului Peristiwa Besar, maka kita akan menyaksikan lebih banyak tragedi di waktu yang akan datang. Mestikah tragedi demi tragedi, baru melahirkan Pemikiran Besar untuk menjadikannya Harapan Besar !! Harapan Besar itu bukanlah emosional atau selebrasi sebatas tekad. Harapan Besar itu bukan anak-nya pemikiran besar, ataupun cucu-nya peristiwa besar !! Harapan Besar itu adalah cara berpikir atau proses yang ter-rencana untuk sesuatu yang lebih baik, terlepas ada atau tiadanya peristiwa yang mendahuluinya. “Hope is not an emotion; it’s a way of thinking or a cognitive process.” — Brené Brown

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi