“Tidak lama setelah itu, ada tembakan gas airmata yang dilakukan aparat ke arah tribun. Nah, pemicunya apa juga saya tidak tahu.”
Dilanjut: “Yang saya lihat, tembakan gas airmata itu ke arah tribun. Kalau tidak salah gate 2, 3, 4. Kemudian gate di bawah skor. Juga di gate 13, dan 14. Situasinya saat itu semburat (kocar-kacir) para penonton. Apalagi asap dari gas airmata itu semakin banyak (mengepul). Posisi saya di VVIP, jadi gas air mata itu tidak ditembakkan di arah tempat saya. Apalagi ada tamu undangan.”
Tapi, beberapa tembakan gas airmata kemudian membuat mata Theo pedih. Ia dan teman, buru-buru keluar.
BACA JUGA: Liga 1 Dihentikan, Borneo FC: Kami Kecewa
Akhirnya: “Alhamdulillah saya bisa keluar, karena kondisi penonton tidak terlalu crowded di tribun VVIP. Saya meninggalkan stadion dengan selamat. Saya baru tahu dari berita, bahwa banyak korban tewas.”
Horor di Tribun 12
Saksi hidup lain, Muhammad Reko Septiyan (19) asal Manyar, Gresik. Tulang kaki kiri patah terinjak-injak di Tribun 12. Ia dirawat di RS di Malang.
Faisol, ayah Muhammad Reko menceritakan kepada pers, Senin, 3 Oktober 2022. Usai pertandingan, Faisol mendapat kabar putranya mengalami luka di kaki sebelah kiri akibat terinjak-injak penonton.
Faisol mengatakan, anaknya, Reko menonton bersama teman-temannya di Tribun 12.
Faisol: “Menurut cerita teman-teman anak saya, saat kerusuhan terjadi polisi menembakkan beberapa kali gas air mata. Salah satunya ke tribun 12, tempat anak saya menonton pertandingan.”
Maka, semua penonton di Tribun 12, lari menuju pintu keluar. Karena, mereka sesak napas akibat tembakan gas airmata.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi