Dalam kondisi mentok, kemudian massa berbalik. Lari, kembali menaiki tangga ke arah tribun lagi. Meskipun di dalam ramai tembakan peluru tajam dan gas airmata.
Jose Salas: “Dalam kondisi gelap oleh asap, ternyata kami bertabrakan dengan massa yang lari dari arah tribun, turun menuju pintu keluar Gate 12. Tabrakan hebat. Di situ banyak yang mati terinjak-injak.”
Jose Salas berada di tumpukan orang. Beberapa hidup. Beberapa,yang paling bawah, mati. Jose terinjak-injak juga. Ia pingsan. Tahu-tahu, ia sudah berada di rumah sakit. Beberapa tulangnya patah.
BACA JUGA: Update: 127 Orang jadi Korban Kerusuhan di Kanjuruhan
Beruntung, Jose masih hidup. Sampai dengan ia diwawancarai wartawan BBC, Piers Edwards yang menulis berita ini, pada 50 tahun kemudian (23 Mei 2014).
Kejadian itu menimbulkan kontroversi puluhan tahun di Peru. Sebab, polisi selain menembakkan gas airmata, juga menembak peluru tajam. Akibat tragedi itu, puluhan polisi diadili, dan dihukum.
Tragedi Kanjuruhan, kini mulai diusut TGIPF. Media massa asing memuat tragedi ini sebagai tragedi bola dengan jumlah korban terbesar ke dua, setelah Tragedi Peru.
Indonesia berduka. Semoga ini jadi pelajaran penting bagi kita semua. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi