Dilanjut: “Ternyata pintu keluar Tribun 12 terkunci. Semua penonton yang lari, menuju pintu yang tertutup. Bertumpuk-tumpuk. Karena mereka yang di belakang, tidak tahu bahwa pintunya terkunci. Akibatnya parah. Banyak yang mati di situ.”
Dibanding Tragedi Peru
Kejadian ini, persis dengan kejadian di lapangan Estadio Nacional, Kota Lima, Peru, 24 Mei 1964 (58 tahun silam). Dalam laga kualifikasi olimpiade, antara Peru melawan Argentina.
BACA JUGA: Presiden Arema Berjanji Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan
Dikutip dari BBC, 23 Mei 2014 dalam peringatan 50 tahun Tragedi Peru, bertajuk: “Lima 1964: The world’s worst stadium disaster”, dikisahkan demikian:
Narasumber, Hector Chumpitaz, legenda bola dari Peru yang pada saat Tragedi Peru, ia pemain muda Peru yang ikut di laga melawan Argentina.
Waktu itu, Peru berada di urutan kedua kualifikasi Olimpiade Amerika Selatan. Peru hanya perlu kedudukan imbang melawan Argentina, untuk masuk olimpiade.
Dikisahkan, pertandingan Peru versus Argentina berlangsung ketat. Sampai babak ke dua, Peru kalah 0 – 1. Peru, selaku tuan rumah, berusaha membobol gawang Argentina, tapi sangat sulit.
Penonton (sekitar 55.000) terus bersorak, mendorong agar Peru menyamakan kedudukan. Peru selalu mendesak, tapi pemain belakang Argentina sangat kuat. Serangan Peru selalu dipatahkan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi