Pak Rinto dengan wajah serius bertanya, seperti mengajukan dakwaan, ”Saya bisa percaya sama kamu, kan, Dur?”
”Saya menghormati orang yang memercayai saya dan menjaga kepercayaan yang diberikan pada saya, Pak,” kata saya. Sepertinya bukan kalimat itu yang penting buat Pak Rinto, tapi bagaimana saya mengucapkannya, dia seperti penyidik yang dengan awas mendeteksi apakah ada kebohongan di wajah saya ketika mengatakan kalimat itu. Sepertinya dia tak menemukan itu.
Dia lalu berdiri. ”Tunggu,” katanya. Tak lama kemudian dia keluar dari ruang kerjanya, dengan tiga jilidan berkas tebal. ”Ini tiga berkas perkara termasuk BAP tersangka pembunuhan Putri. Yang untuk Awang dan Runi tak beda jauh dengan yang sidang sebelumnya, ada tambahan terkait keterlibatan Pintor. Kamu pelajari BAP Pintor. Itu baru.”
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (23)
Dari mana Pak Rinto dapatkan salinan ini? Kalau pun saya tanyakan ia pasti tak akan menjawabnya. Ia tampaknya hanya ingin menunjukkan bahwa jejaring pengaruhnya memang sekuat dan seluas itu. Ia bisa dapatkan BAP itu. Ia pasti bisa dapatkan informasi apa saja. Jadi teringat nasihat Pak Indrayana Idris dalam satu rapat besar kami.
Sebagai wartawan kita jangan pernah merasa sombong dan merasa diri paling tahu. Kita akan malu, rendah diri, kalau kita tahu apa yang diketahui oleh para pengusaha-pengusaha besar itu. Mereka punya uang untuk membelinya, karena mereka memerlukannya dan harga kepentingan yang mereka pertaruhkan jauh lebih besar dari harga informasi yang mereka bayar.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi