Sejak itu Pak Rinto percaya betul pada kekuatan media yang independen, yang dikelola wartawan yang masih punya idealisme. Tapi media kerap ada pada posisi yang rapuh, seringkali tinggal berdiri sendiri atau dengan mudah terbeli. Atau menyerah.
”Pak Azhari menyerah,” kataku. ”Pak Rinto juga menyerah…”
”Sebagai polisi saya memang menyerah. Saya keluar. Tapi saya tak melupakan keinginan kami untuk bisa berbuat sesuatu agar kota ini berkembang dengan benar. Menghargai manusia. Memanusiakan manusia,” katanya.
”Apa yang bapak lakukan?”
BACA JUGA: Siapa membunuh Putri (25)
”Tawaran itu tak datang serta-merta. Saya sudah kontak dengan orang-orang yang kemudian saya tahu siapa mereka. Satu-satunya orang yang kuajak bicara minta pertimbangan adalah Azhari. Kami tahu yang kami lawan itu kekuatan yang kami tak tahu sebesar apa, yang ada di seberang sana,” katanya.
Mungkin karena mengambil pilihan itu, kata Pak Rinto, ia merasa seperti menjadi seorang pengkhianat. Tapi ia menimbang lebih banyak manfaat dan perbaikan yang bisa ia lakukan. Rinto menerima tawaran menjadi informan bagi semacam kelompok penentu yang sangat berpengaruh di negeri seberang sana itu. Ia tak pernah tahu persisnya bekerja dengan siapa. Semua diatur rapi, termasuk bagaimana dana operasional masuk dan ia terima.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi