“Kami sadar bahwa terlalu besar musuh yang kamu hadapi. Musuh itu maksud saya situasi, keadaan, yang terjadi karena lebih banyak orang yang menyesuaikan diri dengan hukum rimba, aturan ala mafia. Kamu faham kan? Siapa yang kuat, yang banyak modal dia bisa mengatur dan membeli peraturan dan orang-orang yang pegang kekuasaan. Itu yang kami hadapi. Azhari lebih dahulu menyerah. Ia tinggalkan kota ini, jadi dosen. Dia orang yang cerdas. Dia cocok jadi orang kampus. Kegelisahannya membuat dia selalu kembali ke sini, sebagai akademisi dan peneliti, bukan sebagai wartawan. Saya bertahan beberapa tahun sebagai polisi. Sebelum keluar,” katanya.
“Terus, selepas tak lagi dinas, apa yang Pak Rinto kerjakan?”
“Nah itu rahasianya. Saya ceritakan ke kamu sekarang,” katanya.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (26)
Rinto dan Azhari muda, dulu, pernah menolong beberapa perempuan muda korban trafficking, perdagangan manusia. Mereka direkrut sebagai tenaga di tempat-tempat hiburan, karaoke, panti pijat, bar, mereka diiming-imingi gaji menggiurkan, nyatanya mereka tak lebih dari sekadar dijadikan pelacur. Dipekerjakan seperti budak. itu kontrak, tak bisa lari, dikawal ketat.
Suatu kali ada enam orang kabur dan dikejar preman suruhan pemilik pelacuran. Saya masih ingat nama-nama mereka. Enam orang itu membawa bukti-bukti keterlibatan beberapa oknum keamanan dan nama-nama tokoh besar lain.
Rinto dan Azhari mengupayakan enam orang itu lari mengamankan diri dulu ke luar pulau dengan kapal lewat pelabuhan tikus. Mereka bawa bukti-bukti yang mereka punya. Modal perlawanan mereka. Di tengah laut, awak kapal yang ternyata sudah dibayar oleh jaringan mafia itu, terjun ke laut dan kapal itu dibakar. Enam orang perempuan malang itu itu hilang. Tak berjejak.
“Azhari sangat terpukul. Ia merasa telah ikut membunuh enam orang itu. Ia tak bisa melakukan apa-apa. Tak ada sumber yang tahu, kalaupun tak ada yang mau buka mulut. Koran tempatnya bekerja tak mau memuat beritanya. Ia mendesak saya untuk melakukan sesuatu. Saya juga tak bisa apa-apa. Atasan saya tak memercayai laporan saya. Kamu tahu apa kata atasan saya waktu itu? ‘Selama tak muncul di koran berarti tak ada kejadian itu’, katanya,” kata Pak Rinto.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi