Hibah Riset Keilmuan, Ubaya Diversifikasi Produk dari Kakao untuk Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

waktu baca 3 menit
Hibah Riset Keilmuan dengan skema Hibah Riset Kewirausahaan dikerjakan oleh anggota tim periset gabungan antara Fakultas Teknobiologi (FTb) dan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Surabaya (Ubaya).

SURABAYA-KEMPALAN: Hibah Riset Keilmuan dengan skema Hibah Riset Kewirausahaan kali ini dikerjakan oleh anggota tim periset gabungan antara Fakultas Teknobiologi (FTb) dan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Surabaya (Ubaya). Adapun tim akademisi hasil kolaborasi itu terdiri dari Mariana Wahjudi, S.Si., M.Si., Ph.D., Christina Mumpuni Erawati, STP., M.Si, dan Dr. Dra.ec. Liliana Inggrit Wijaya, MM, CFP, AEPP, QWP, QFE.

Mereka mengusung riset bertitelkan “Diversifikasi Produk dari Kakao untuk Ketahanan Pangan di Masa Pandemi.” Tidak hanya para dosen senior, tim riset keilmuan juga beranggotakan mahasiswa dan mahasiswi Gilbert Hartanto, Audrey Layana Tjahyadi, Amelia, Audrey Belinda, Vina Alamsjah, Natasha Aurelia, Stephanie Belinda Wijaya, dan Amanda Villelie Sudarmin. “Kita bermitra dengan PT Moodco di bawah pimpinan Ibu Merry Sujiati, S.T. dengan lama pengerjaan sesuai hibah mulai Desember 2021 hingga November 2022,”papar Mariana.

Menurut dia, diversifikasi produk berbahan kakao penting dilakukan di masa pandemi, karena berlimpahnya kakao yang tidak terserap ke industri cokelat. Masyarakat lebih memilih membeli produk pangan kesehatan untuk meningkatkan imunitas dan kesehatan tubuh.

“Produk coklat dengan fungsi kesehatan, akan memberikan nilai tambah penjualan kakao sekaligus menyelamatkan petani kakao. Saat ini petani lebih memilih menjual biji kakao nonfermentasi yang kualitasnya lebih rendah, walaupun pemerintah dan berbagai pihak telah berupaya untuk meningkatkan kualitas kakao agar menembus pasar industri cokelat global untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao,” lanjut doktor Teknobiologi dari Belanda ini.

Namun, kata Mariana, ada berbagai permasalahan kompleks yang belum bisa diselesaikan, sehingga saat ini petani kakao memilih menjual kakao nonfermentasi.

Tim akademisi hasil kolaborasi itu terdiri dari Mariana Wahjudi, S.Si., M.Si., Ph.D., Christina Mumpuni Erawati, STP., M.Si, dan Dr. Dra.ec. Liliana Inggrit Wijaya, MM, CFP, AEPP, QWP, QFE.

“Di masa pandemi permasalahan semakin kompleks karena menurunnya daya beli masyarakat dan aktivitas pariwisata dan industri kosmetik, yang umumnya berkembang karena kebiasaan masyarakat menjadikan cokelat sebagai oleh-oleh. Pada penelitian ini, biji kakao akan diolah menjadi berbagai produk tepung dan tempe,” kata dia.

Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang umumnya dibuat dari kedelai. Tempe memiliki banyak kelebihan pada aspek kesehatan di antaranya selama proses fermentasi tempe ada peningkatan senyawa antioksidan, dan daya cerna dan serap gizinya dalam tubuh manusia, sedangkan zat antigizi berkurang.

Biji kakao diprediksi akan memiliki kelebihan yang sama dengan kedelai bila difermentasi dengan jamur tempe kedelai. Pembuatan tempe kakao dan tempe kedelai-kakao adalah salah satu upaya pengembangan bahan baku lokal untuk mendapatkan produk pangan bergizi tinggi dengan nilai tambah bagi kesehatan. Untuk meningkatkan umur simpan tempe, maka tempe juga dijadikan tepung.

“Tujuan penelitian adalah mendapatkan formulasi produk olahan biji kakao yang memiliki nilai gizi dan nilai tambah bagi kesehatan, melakukan uji kelayakan pasar dan kelayakan usaha produk olahan kakao, merancang strategi pemasaran digital untuk branding, promosi dan penjualan, merancang strategi pencatatan keuangan, pengolahan data transaksi dan keuangan secara tepat,” pungkas Mariana. (*)

Editor: Freddy Mutiara

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *