Apakah istana bebenah? Istana hanya mampu beretorika dengan dalih dan kata kata. Peristiwa mafia ditubuh kepolisian semakin membuat istana kehilangan kepercayaan. Kejahatan negara terhadap rakyatnyapun mulai terkuak satu persatu. Hukum hanya tajam ke rakyat dan oposisi, tumpul ke atas kawan sendiri. Kasus penghinaan Eko Kuntadi ketua Ganjaris Nusantara kepada ulama ( Nyai Imas) dan pesantren ( PP Lirboyo) serta Ummat Islam ( ajaran Islam) menjadi bukti tumpulnya hukum dan kepolisian sebagai instrumen penindakan.
Lalu apa yang bisa diharapkan dari rezim ini? Aksi demo yang menyebar kesemua pelosok negeri adalah jawaban betapa rakyat sudah tak punya harapan lagi kepada rezim ini. Jokowi menjadi sasaran kemarahan rakyat meski kita paham bahwa Jokowi tak lebih menjalankan perintah oligarki.
BACA JUGA: Anies Sang Panglima Perubahan dan Kegelisahan Istana
Kepada siapa lagi kita berharap? Pergantian kepemimpinan di 2024 adalah momentum untuk merobohkan istana dari cengkraman oligarki dan kuasa jahat. Jokowi tentu tidak ingin kekuasaannya berpindah begitu saja, terbukti masih ada upaya untuk menambah masa jabatannya menjadi tiga periode dengan segala cara bahkan yang terakhir ada upaya melalui legitimasi MK, Jokowi untuk menjadi wakil presiden, meski secara moral tak baik, bagi Jokowi dan oligarki itu tak penting. Kekuasaan adalah segala galanya.
Setidaknya upaya terakhir yang dilakukan adalah menempatkan orang orang yang bisa dianggap menjaga ambisinya dan menyelamatkannya.
Prabowo dan Ganjar adalah dua orang yang bisa diharapkan, karena keduanya berasal dari lingkaran Jokowi. Namun apakah rakyat bisa menerima? Ini tentu menjadi persoalan bagi Jokowi. Keduanya dianggap sebagai copy paste Jokowi, sehingga keduanya dianggap tak akan mampu menjawab ketidakpercayaan rakyat.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi