Enam puluh enam tahun berlalu cerita robohnya surau kami dengan membangkitkan pentingnya kesadaran politik dan kesadaran sosial di samping kesadaran beragama sebagai mahluk Tuhan yang bertanggung jawab terhadap nasib bangsa dan anak cucu kita.
Kesadaran bangkit untuk menyelamatkan negeri dari jarahan oligarki, kini telah merasuki semua kalangan rakyat dinegeri pertiwi.
Buruh, mahasiswa, pelajar, rakyat dan bahkan emak emak kini bangkit bersuara lantang akibat kebijakan istana yang ugal – ugalan. Rakyat dibuat sengsara, rakyat dibuat menderita, rakyat dibuat terlunta – lunta sementara istana dan kerabatnya hidup dalam kemewahan. Istana tak ubahnya menjadi lintah yang menghisap darah rakyatnya.
BACA JUGA: Anies Sang Panglima Perubahan dan Kegelisahan Istana
Kenaikan harga BBM dan pernyataan bahwa rakyat menjadi beban negara menjadi titik temu diantara berjibun kebijakan kebijakan negara yang menyengsarakan rakyat. Omnibus law, pelemahan KPK, menjadikan polisi, MK, dan instrumen hukum lainnya menjadi alat kekuasaan, bahkan PSSI yang harusnya menjadi lembaga olahraga yang sportif kini telah terperosok ketitik nadir. Korupsi merajalela, bangsapun terbelah.
Teriakan Jokowi mundur menjadi warna yang menghiasi aksi aksi demonstrasi gabungan yang saat ini terjadi. Tak ada harapan yang bisa dipupuk dari rezim laknat ini.
Bahkan dari ruang sidang DPD, Nusantara V, emak emak dengan lantang menyanyikan lagu Jokowi mundur, Jokowi mundur. Istana dan pemerintah sudah kehilangan kepercayaan dari rakyatnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi