KEMPALAN: Debat capres putaran pertama langsung seru, tensi langsung tinggi, dan ketiga kontestan langsung saling serang tanpa basa-basi. Ibarat naik motor, langsung tancap gas dengan persneling tinggi. Ibarat sepak bola, sejak kick off tempo permainan langsung tinggi sejak peluit pertama ditiup.
Tema yang diusung KPU (Komisi Pemilihan Umum) untuk debat perdana ini juga langsung tema kelas berat, yaitu penguatan demokrasi, hukum, HAM, pemberantasan korupsi, peningkatan pelayanan publik, dan kerukunan warga. Ibarat naik motor harusnya dimulai dari gigi rendah dulu, baru naik ke gigi yang lebih tinggi. Tapi, KPU malah menaruh tema persneling tinggi pada debat perdana. Tak pelak, tensi tinggi sudah muncul sejak detik pertama.
Semua pihak mengklaim sebagai pemenang dalam debat pertama ini. Tetapi, reaksi publik dan netizen menunjukkan bahwa debat perdana ini seperti ‘’two horse race’’ balapan dua kuda antara Anies Baswedan vs Prabowo. Ganjar Pranowo mencoba masuk ke gelanggang, tapi dua kandidat lain lebih asyik beradu argumen masing-masing. Jadinya, Ganjar lebih mirip sebagai cheerleader di tengah lapangan.
Ganjar Pranowo sudah langsung membidik Prabowo dengan pertanyaan mengenai kasus pelanggaran berat HAM pada 1998. Prabowo dituding berada di balik penculikan aktivis mahasiswa dan aktivis reformasi pada saat itu. Hasil sidang DKP (Dewan Kehormatan Perwira) saat itu memutuskan untuk memecat Prabowo. Ketika itu Jenderal Wiranto, sebagai panglima ABRI, mengeksekusi hasil keputusan DKP itu.
Dalam debat perdana (12/12) Wiranto duduk di kursi depan pendukung Prabowo. Di jajaran kedua ada Budiman Sudjatmiko, bekas korban penculikan yang kemudian menjadi politisi PDIP, dan sekarang menyeberang ke kubu Prabowo. Budiman mengangkat kedua tangannya dan melambai-lambaikannya ketika Prabowo menyebut bahwa korban penculikan sekarang banyak yang berada di kubunya.
Boleh saja banyak korban penculikan yang sekarang berada di kubu Prabowo, tetapi hal itu sama sekali tidak bisa menjustifikasi tindakan Prabowo yang sudah divonis oleh DKP. Ganjar mencoba terus mendesak, tapi Prabowo terus menghindar. Dia mengatakan bahwa isu ini selalu diangkat setiap lima tahun sekali. Sebagai veteran kandidat pilpres yang sudah berpengalaman 20 tahun Prabowo hafal dengan narasi ini. Ia sudah menyiapkan counter-argument yang juga diulang-ulang selama 4 kali pemilihan presiden dalam 20 tahun terakhir.
Perdebatan paling seru terjadi antara Prabowo vs Anies. Terlihat sekali bahwa Prabowo bernafsu menghabisi Anies. Tetapi, publik tentu tahu bahwa bagi Anies ajang debat ini merupakan makanannya. Ibarat ikan yang dicemplungkan ke air, Anies berenang dengan bebas dan nyaman.
Sejak kick off Anies langsung menyerang ala total football. Ia mengkritik pelaksanaan hukum di Indonesia yang bermasalah karena hukum tidak menjadi panglima, dan hanya menjadi alat kekuasaan dalam bernegara. Sebagai negara demokrasi Indonesia harusnya berprinsip sebagai rechtsstaat, negara hukum, bukan machtstaat, negara kekuasaan.
Yang terjadi sekarang adalah negara machtstaat yang menjadikan kekuasaan sebagai panglima. Demokrasi di Indonesia tidak jalan karena kebebasan berbicara dan berpendapat diberangus sehingga publik takut berbicara. Partai politik yang seharusnya menjadi artikulasi suara publik terbungkam, oposisi mandek, dan rakyat kehilangan trust terhadap sistem pemilu.
Prabowo terpancing emosinya. Dengan nada tinggi ia mengatakan bahwa kalau demokrasi tidak jalan maka Anies tidak akan bisa menjadi gubernur DKI Jakarta. Kalau Joko Widodo diktator maka Anies tidak akan bisa menjadi gubernur.
Emosi Prabowo membawanya kepada kesesatan berpikir. Prabowo terjebak oleh logical fallacies karena menganggap bahwa Jokowi-lah yang membawa demokratisasi di Indonesia. Seharusnya argumen Prabowo dibalik. Jokowi tidak akan bisa menjadi walikota, gubernur, dan presiden dua periode kalau tidak ada demokratisasi melalui reformasi 1998. Pada saat itu Jokowi menjadi pedagang mebel dan tidak terlibat dalam gerakan reformasi. Sedangkan Prabowo menjadi Komandan Kostrad yang berusaha menghalangi reformasi dengan kekerasan.
Pada banyak kesempatan Prabowo berbicara dengan nada tinggi, atau memotong pembicaraan lawan. Ketika waktu habis dan diingatkan oleh moderator, Prabowo bereaksi dengan memamerkan joget gemoy. Ekspresi ini disoraki dengan gegap gempita oleh pendukungnya, tapi diejek oleh pendukung lawannya.
Prabowo menyerang Anies dengan isu pencemaran udara yang tinggi di Jakarta. Ketika Anies membuat analogi mengenai tes covid, Prabowo langsung memotong dengan mengatakan bahwa dia bertanya mengenai polusi, bukan mengenai covid. Prabowo kurang konsen sehingga gagal paham mengenai analogi yang dipakai oleh Anies untuk menjelaskan logikanya.
Anies mengatakan, polusi Jakarta terlihat jelek karena dia memasang indikator polusi sebagai alat ukur pencemaran udara. Disimpulkan bahwa polusi udara Jakarta terjadi karena kiriman dari daerah sekitar, termasuk pembangkit tenaga listrik yang ada di sekitar wilayah DKI. Kalau jumlah mobil di DKI tidak berubah, tetapi tingkat polusi bisa naik dari hari ke hari, maka penyebabnya adalah angin yang membawa polusi dari luar Jakarta. Prabowo membuat kesimpulan bahwa Anies menyalahkan angin dalam kasus polusi Jakarta. Ungkapan itu mendapat aplaus dari pendukungnya, dan Prabowo terlihat puas.
Prabowo kemudian mengungkit bahwa dialah yang mengusung Anies pada pilgub DKI 2017. Terlihat bahwa Prabowo bernafsu menyerang Anies sehingga terjebak oleh argumen ad hominem yang menyerang Pribadi.
Anies terhenyak oleh serangan frontal itu. Tapi ia cepat menguasai keadaan. Anies menyerang balik dengan mengatakan bahwa dalam sistem demokrasi, oposisi dan penguasa mempunyai derajat yang sama-sama terhormat. Tetapi, sayangnya tidak banyak orang yang kuat menjadi oposisi. Prabowo salah satu contohnya. Mendapat counter attack ini Prabowo berekspresi dengan memicingkan mata dan memonyongkan bibir ke arah Anies.
Perihal IKN, Anies juga mendapat serangan frontal dari Ganjar. Anies dicecar apakah akan melanjutkan proyek IKN atau tidak. Anies menjawab lugas, bahwa proyek besar semacam IKN harusnya melibatkan dialog publik sebelum diputuskan. Yang terjadi adalah keputusan diambil tanpa persetujuan rakyat, dan kemudian siapa pun yang tidak setuju dianggap sebagai oposisi.
Posisi Anies dalam kasus IKN jelas. Masalah keruwetan di Jakarta harus diselesaikan, bukan ditinggalkan dengan membangun IKN. Indonesia masih membutuhkan banyak puskesmas dan sekolah. Daripada ratusan triliun diboroskan untuk membangun rumah pejabat di IKN, lebih baik dipakai untuk membangun puskesmas dan sekolah untuk rakyat.
Di penghujung debat positioning tiga kandidat sudah jelas. Anies membawa perubahan, Prabowo meneruskan program Jokowi, Ganjar berada di persimpangan. Pada closing remark, Anies menegaskan sikapnya terhadap perubahan, ‘’Wakanda No More, Indonesia Forever’’.
Oleh: Dhimam Abror Djuraid, founder kempalan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi