Rabu, 29 April 2026, pukul : 19:10 WIB
Surabaya
--°C

Bang Edi (1955-2022)

Manusia sudah kehilangan jati dirinya dan sudah berubah menjadi ‘’homo digitalis’’ dalam istilah yang dipakai oleh Frankie Budi Hardiman. Homo digitalis menjadi manusia yang tidak real, karena eksistensi korporeal di dunia nyata berbeda dengan eksistensi di dunia maya. Di dunia nyata dia bukan siapa-siapa, karena tidak memenuhi kualifikasi intelektual. Tetapi di dunia maya dia menjadi expert dengan pengikut jutaan follower.

Dunia digital membuat kita semua mengalami bias konfirmasi, yaitu cenderung hanya menerima bukti yang mendukung hal yang sudah kita percayai. Kita lebih mencari konfirmasi ketimbang verifikasi. Ini yang disebut Efek Dunning-Kruger. Otak kita memang sudah tersambung untuk bekerja dengan cara demikian.

Inilah yang disebut sebagai ‘’echo chamber’’ ruang gaung, tempat kita hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengarkan. Inilah yang menyebabkan meruyaknya hoaks dan fake news. Manusia tidak bisa lagi membedakan fakta dengan hoax. Kebohongan sudah berubah menjadi ‘’post-truth’’ yang disampaikan tanpa rasa bersalah.

Donald Trump menjadi contoh yang banyak dikutip Tom Nichols untuk membuktikan manusia yang terjangkit Efek Dunning-Kruger. Selama berkuasa menjadi presiden Amerika Serikat Trump dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa bias konfirmasi menjangkiti semua orang. Ia menuduh media menyebarkan hoax dan fake news jika informasinya tak menguntungkan kebijakannya. Apapun yang merugikan akan ia sebut hoax dan palsu.

Nichols tidak melakukan riset di Indonesia. Meski begitu banyak kesamaan yang bisa kita lihat terjadi di Indonesia. Pengambilan kebijakan besar dan strategis dipaksakan tanpa memperhitungkan efek sosial. Jika proyek jangka panjang belum selesai maka akan direkayasa perpanjangan masa jabatan untuk mengejar target penyelesaian proyek-proyek besar itu. Itulah Efek Dunning-Kruger versi Indonesia. Kemampuan yang terbatas menjadi hilang oleh ambisi yang berlebihan.

Kita berada pada masa yang sangat berbahaya. Begitu banyak orang memiliki begitu banyak akses ke begitu banyak pengetahuan, tapi sangat enggan mempelajari apa pun, termasuk gejala menolak saran para pakar. Di era internet, kepakaran sudah tak diperlukan. Ketika kita harus mencari tahu tentang sesuatu, kita tak lagi berkonsultasi ke para pakar sebagai sumber terbaik yang dapat kita temukan. Posisi pakar yang dulu di puncak piramida keahlian, sekarang dianggap sejajar dengan orang awam, bahkan sering lebih rendah.

Euforia media sosial yang memengaruhi hidup kita ditandai dengan ketidakmampuan untuk membedakan antara yang informatif dan yang spekulatif, antara yang proporsional dan yang berlebihan, antara yang bohong dan hoaks. Apapun yang dikeluarkan oleh mesin pencari Google dianggap sebagai kebenaran. Bahkan dalam urusan agama pun kita mempercayakannya kepada mesin peramban Google.

Intelektual kampus seharusnya berperan menjadi penengah di antara semua kesemerawutan ini. Tetapi, yang terjadi, perguruan tinggi, pers, hingga pakar intelektual itu justru ikut terseret masuk ke dalam pusaran, menjadi bagian yang memberi andil dalam keruntuhan intelektual. Kampus sudah menjadi lembaga bisnis yang dikelola lebih sebagai perusahaan komersial yang profesional. Kematian kepakaran dipercepat dari dalam kampus sendiri.

Azyumardi Azra hidup dalam kondisi seperti itu. Tetapi, ia membuktikan bahwa intelektual masih tetap hidup. Ia menerjunkan diri sebagai intelektual organik yang membela dan menyuarakan kepentingan rakyat akan keadilan. Ia berani berkata tidak kepada penguasa yang terjangkit sindrom ‘’Dunning-Kruger’’.

Masa hidupnya yang relatif pendek didedikasikannya untuk senantiasa menghidupkan dunia intelektual. Ia berusaha menjadi manusia yang tercerahkan, ‘’Rausan Fikr’’ dalam istilah Ali Shariati. Konsep Rausan Fikr itu selalu melekat dalam pikirannya, dan ia mengabadikannya sebagai nama salah satu anaknya. Selamat jalan, Bang Edi. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.