Aku punya waktu beberapa jam mengatur anak-anak di Pesantren Alhidayah, cabang baru yang sedang dirintis Ustad Samsu. Urusan pindah sekolah yang rumit, tak akan selesai dalam satu hari itu, tapi Bu Yani akan meneruskan. Nenia pamit ada urusan sebentar katanya, lalu pulang lagi menjemputku dengan satu kunci kamar kos. ”Ini kunci dari Bang Jon. Kamu pakai aja saja. Nanti sama saya ke sananya,” kata Nenia. Dia sebut alamat satu kompleks ruko di kawasan dagang dan nomor kamar.
Saya kira Bang Jon sudah terlalu jauh. Saya harus menjawab tawarannya lekas-lekas, saya menolak untuk membantunya di koran baru itu. Bersama Nenia saya menemui Bang Jon. Ia katakan, bantuannya tak ada kaitan dengan tawarannya. Ia paham apabila aku tak bisa membantunya. Ia mungkin ingin terus menjaga hubungan baik denganku, apakah karena dia merasa bisa memanfaatkan saya untuk rencana-rencananya yang lain? Ah, saya berprangka baik saja. Orang yang pernah kupandang sebagai semacam monster karena sosoknya sebagai wartawan yang lebih polisi daripada polisi.
BACA JUGA: Lima Sekawan
Ia sedang memperlihatkan sisi lain dari dirinya, sisi yang ramah. Saya toh harus membangun jejaring yang lebih luas di kota ini, semakin luas, akan semakin baik. Bang Jon adalah simpul penting, pintu masuk yang akan membuka jalan ke mana-mana. Jalan apa saja, termasuk yang jalan ke tempat yang panas dan kawasan remang. Tapi itulah kota ini lengkap dan hidup dengan seluruh bagiannya yang kontradiktif ini.
Saya ternyata tak bisa tak masuk. Malah bingung karena tak tahu harus mengerjakan apa. Setelah beres semua urusan, saya masuk kantor.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi