Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 06:23 WIB
Surabaya
--°C

Sayangnya Relawan Anies Masih Menjadi Kerumunan?

OLEH: Isa Ansori (Kolumnis)

KEMPALAN: Tingkat popularitas Anies memang luar biasa, dari berbagai lembaga survey, Anies selalu menempatkan diri pada posisi tiga besar.

Tingkat popularitas dalam sebuah survey sejatinya menandakan keterterimaan seseorang didalam persepsi publik. Dari keterterimaan dalam persepsi diharapkan akan menjadi keterpilihan.

Tentu saja untuk menjadi keterpilihan tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang sporadis dan tidak tertata dan terencana. Semua harus tersistem, tertata dan terencanaterencana secara baik.

Hal menggembirakan adalah dimana mana kita menyaksikan kemeriahan deklarasi-deklarasi dukungan terhadap Anies. Namun sayangnya di antara deklarasi-deklarasi tersebut masih terkesan sebagai sebuah kerumunan.

BACA JUGA:

Mengapa disebut kerumunan? Ya karena kebanyakan di antara relawan hanya berkerumun lalu mereka merasakan nasib yang sama, nasib keterpinggiran, begitu ketemu kawan senasib maka lebih banyak mengeluh dan mencela, atau melakukan aksi-aksi yang seolah mendukung Anies, tapi nyatanya tidak berkorelasi dengan rencana mengkapitalisasi dukungan untuk menjadi suara.

Dalam berbagai kerumunan media sosial, relawan Anies seringkali terlihat mengabarkan kegiatan-kegiatan yang tidak ada hubungannya bagaimana mendapatkan suara dukungan untuk Anies sebanyak-banyaknya. Mereka hanya berkerumun di antara mereka saja, sehingga kemampuan untuk menggarap ceruk penambahan suara tidak terjadi.

Anies lebih banyak menjadi milik mereka, Anies tak boleh dimiliki oleh orang lain, apalagi orang yang selama ini dianggap sebagai lawan. Sehingga dukungan terhadap Anies hanya berputar di antara mereka sendiri.

BACA JUGA: PKS, Anies Baswedan, dan Kemenangan Rakyat

Masih banyak relawan Anies tidak banyak mau belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, sehingga kebanyakan relawan Anies gampang terjebak dalam isu dan kegiatan yang tidak hubungannya dengan kerja-kerja memenangkan Anies.

Semangat yang tinggi seringkali tidak diimbangi kemampuan berpikir yang rasional. Kebanyakan di antara mereka lebih mengedepankan emosional.

Lalu apa yang harus dilakukan? Kerja politik menuntut kecermatan dan keterukuran

Kerja politik menuntut cara-cara berpikir yang rasional, bukan cara berpikir emosional yang membawa perasaan. Didalam kerja-kerja politik, seseorang dituntut untuk memahami dinamika yang terjadi, sehingga segala kemungkinan bisa saja terjadi sebagai sebuah keniscayaan dalam politik.

Didalam politik seringkali tidak dikenal kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Sehingga dalam politik seringkali dimaknai bertemunya kepentingan untuk mendapatkan kekuasaan dan mengelolanya.

Relawan Anies sudah saatnya berpikir bagaimana memenangkan Anies dengan berbagai kemungkinan yang ada, karena cara seperti ini juga akan dilakukan oleh calon lain untuk menggerus suara dukungan terhadap Anies.

BACA JUGA: Lokomotif Perubahan Itu Anies dan La Nyala Mattalitti

Dalam sebuah analisa transaksional komunikasi, Eric Berne mengatakan bahwa untuk bisa menghasilkan sebuah pesan komunikasi yang bisa diterima orang lain atau lawan bicara, seseorang dituntut untuk bisa berpikir dewasa, mampu memilih kata kata dan merangkainya untuk menimbulkan simpati. Eric Berne menyebutnya sebagai komunikasi “I am ok, you are ok”.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.