Konten Mandi Lumpur Eksploitasi Monetisasi Hadiah Virtual

waktu baca 5 menit
Fenomena ngemis online di TikTok oleh perempuan paruh baya. (tangkapan layar TikTok). (Sumber foto: Solo Pos)

*) OLEH: Moh. Darus Salam, S.E., M.B.A

Beredar luas di media sosial kumpulan video yang memperlihatkan adegan mandi lumpur yang dilakukan oleh ibu-ibu paruh baya dan lansia. Video mandi lumpur tersebut bukan hasil rekaman amatir, melainkan dibuat oleh para konten kreator yang aktif menggunakan platform TikTok sebagai media untuk memproduksi, sekaligus menyebarluaskan konten digital kepada komunitas media maya (cyber community).

Sederhananya, video dibuat untuk memenuhi kebutuhan konten yang diunggah pada platform TikTok. Kendati demikian, konten mandi lumpur tersebut menyebabkan timbulnya kondisi yang cukup dilematis karena ada pro-kontra di balik pembuatan konten tersebut.

Adapun jika dilihat dari sisi ekonomi, konten mandi lumpur bisa disebut sebagai kegiatan produktif karena konten kreator bisa memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut.

Salah seorang konten kreator TikTok memamerkan sebuah motor sport seharga tiga puluh lima juta rupiah yang dibeli secara tunai menggunakan uang hasil ngonten TikTok, dan salah satu konten yang disajikan ialah mandi lumpur.

Bagi masyarakat awam, hal itu bisa disebut sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa. Bagaimana tidak, di tengahriuhnyaisu resesi dan kemelut ekonomi global, seorang pemuda bisa membeli barang seharga puluhan juta secara tunai.
Akan tetapi, muncul dilema ketika konten mandi lumpur tersebut dibenturkan pada nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Sebagian pihak menilai bahwa konten mandi lumpur tidak etis karena melanggar nilai kesopanan.
Penilaian tersebut bisa muncul karena konten kreator secara sadar meminta ibu-ibu paruh baya dan lansia yang ditunjuksebagai talent untuk memeragakan adegan mandi lumpur dengan tujuan mendapatkan hadiah virtual. Terlepas dari kesediaan para talent untuk ‘dikontenkan’, sebagian pihak tetap menilai bahwa konten mandi lumpur merupakan tindakan eksploitatif.

Monetisasi Hadiah Virtual
TikTok menyediakan fitur siaran langsung (live) yang berfungsi sebagai sarana interaksi dua arah antara konten kreator TikTok dengan pengikutnya (followers). Pada saat konten kreator melakukan siaran langsung, pengikutnya bisa memberikan hadiah virtual (gift)kepada kreator sebagai bentuk apresiasi atas konten yang telah dibuat. Hadiah virtual tersebut kemudian bisa ditukar menjadi rupiah melalui proses monetisasi.

Kecanggihan fitur tersebut menjadi ‘lahan basah’ untuk meraup pundi-pundi pendapatan, tak heran jika para konten kreator berbondong-bondong berburu hadiah virtual meskipun ditempuh dengan berbagai cara, salah satu caranya ialah mempertontonkan adegan mandi lumpur ibu-ibu paruh baya dan lansia.
TikTok menjadi lahan basah bagi para konten kreator karena berdasarkan hasil rilis data dari Word Population Review, jumlah pengguna aktif TikTok asal Indonesia hingga akhir 2022 diperkirakan mencapai angka 99 juta pengguna. Artinya, Indonesia menjadi negara dengan pengguna TikTok terbanyak kedua di dunia. Data tersebut setidaknya bisa menjadi bukti bahwa TikTok yang disebut sebagai ‘lahan basah’ bukan hanya isapan jempol semata.

Atas adanya data tersebut, tidak heran jika konten mandi lumpur cepat menyebar luas di kalangan komunitas media maya (cyber community), khususnya pengguna TikTok. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan konten tersebut bisa menjadi sorotan publik, pertama, media maya mengajak penggunanya untuk bersikap FOMO (Fear of Missing Out), atau merasa khawatir jika tertinggal informasi terbaru.

Alhasil, ketika ada informasi baru yang sedang trending, akan cepat sekali menyebar. Secara kebetulan, dalam hal ini konten mandi lumpur ibu-ibu paruh baya dan lansia sedang menjadi trending topic di media sosial.

Kedua, alasan mengapa konten mandi lumpur bisa cepat tersebar di media sosial ialah disebabkan meningkatnya tren. Seorang konten kreator cenderung akan membuat konten terpopuler dan paling hangat.

Berdasarkan data dari Google Trend, kata kunci ‘mandi lumpur’ selama pertengahan hingga pekan terakhir Januari 2023 sedang banyak dibicarakan komunitas media maya. Atas dasar itulah, tidak heran jika kreator terdorong untuk memproduksi konten yang berkaitan dengan mandi lumpur.

Hal tersebut dilakukan agar konten kreator mendapatkan kepercayaan dari pengikutnya, semakin tinggi kepercayaan pengikut, maka peluang untuk mendapatkan rupiah semakin besar. Sederhananya, alasan paling krusial dibuatnya konten mandi lumpur ialah monetisasi uang yang diperoleh dari media sosial agar bisa menambah pundi-pundi pendapatan para konten kreator selaku pelaku industri kreatif.

Tindakan Eksploitatif
Aksi konten kreator TikTok yang memperlihatkan adegan mandi lumpur ibu-ibu paruh baya dan lansia itu amat disayangkan oleh banyak pihak. Pasalnya, dalam video yang beredar di media sosial terlihat jelas bahwa ibu-ibu dan lansia yang mandi lumpur tersebut menggigil kedinginan karena secara terus-menerus mengguyurkan air pada tubuhnya demi mendapatkan hadiah virtual (gift). Aksi nekat yang dilakukan para konten kreator TikTok itu disebut sebagian pihak sebagai tindakan eksploitatif karena dengan sengaja ‘menjual’ ibu-ibu paruh baya dan lansia demi meraup keuntungan.

Atas beredarnya konten mandi lumpur tersebut, Kementerian Sosial Republik Indonesia juga sepakat untuk menyebutnya sebagai kegiatan yang eksploitatif, hal itu telah ditegaskan dalam Surat Edaran No. 2 Tahun 2023 tentang Penertiban Kegiatan Eksploitasi dan/atau Kegiatan Mengemis yang Memanfaatkan Lanjut Usia, Anak, Penyandang Disabilitas, dan/atau Kelompok Rentan Lainnya.

Adapun dalam edaran yang diterbitkan pada tanggal 16 Januari 2023, Kemensos RI meminta kepada kepala daerah baik gubernur maupun bupati/wali kota untuk mencegah adanya kegiatan mengemis baik di dunia nyata maupun maya, khususnya yang mengeksploitasi kelompok lanjut usia, anak, penyandang disabilitas, dan/atau kelompok rentan lainnya.

Mengalihkan Perhatian ‘Pasar’ Dunia Maya
Konten mandi lumpur jika dilihat dari sudut pandang pemasaran, bukan ‘produk’ yang bisa bertahan dalam jangka panjang, meskipun produk tersebut bisa mendatangkan rupiah dalam jumlah yang relatif besar. Hal itu dikarenakan, konten kreator saat ini hanya sedang memanfaatkan peluang (opportunity), bukan sedang membangun bisnis industri jangka panjang. Alhasil, konten kontroversial semacam mandi lumpur pada akhirnya menjadi boomerang bagi konten kreator itu sendiri karena tidak berhasil menciptakan ‘pasar’ yang dibangun dengan kualitas yang baik.

Salah satu cara yang mungkin bisa dilakukan untuk menjawab dilema konten mandi lumpur ialah menciptakan trend baru yang bisa dilirik ‘pasar’ digital, dalam hal ini pasar yang dimaksud ialah komunitas media maya itu sendiri. Lambat laun pelaku ‘pasar’ media sosial akan berada pada titik jenuh menyaksikan konten mandi lumpur, sehingga, tanpa adanya imbauan dari pemerintah sekalipun, sebetulnya konten semacam itu hilang dengan sendirinya karena telah kehilangan pasar. Konten mandi lumpur masih tren sampai sekarang karena publik masih membahasnya, sehingga platform seperti TikTok akan terus menyodorkannya kepada pengguna. Ketika publik sudah mengabaikan dan berhenti mencari konten mandi lumpur, maka secara otomatis TikTok juga tidak akan meliriknya lagi. Sejatinya, popularitas diciptakan sekaligus diberhentikan oleh komunitas media maya itu sendiri.

*Penulis adalah, dosen Fakultas Vokasi Unair dengan Expertise social media marketing, digital marketing, strategic marketing, branding

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *