Saya kira kami memang tak bisa berargumen apa-apa, kami harus segera mengosongkan rumah itu. Kami toh hanya penyewa, Pak Doni dulu bahkan meminjamkan saja. Dia punya banyak aset rumah. Usaha kateringnya di kawasan industri Watukuning, maju pesat, melayani ribuan pelanggan. Ketika Pak Doni melepas seluruh aset termasuk urusan usaha, anaknnya memungut sewa, untungnya tak mahal. Kedua tamu itu berpamitan. Saya dan Bu Yani menyanggupi mengosongkan panti dalam seminggu, paling lambat.
Saya harus menemui Ustad Samsu. Minggu lalu saya sempat menemaninya mengambil surat persetujuan lahan untuk membangun pesantren di kota pulau ini. Ini akan jadi cabang ke sekian dari pesantren yang berpusat di Balikpapan, yang sempat menjadi rumahku saat tsanawiyah dulu. Untuk sementara, pesantren diselenggarakan di ruko di kawasan Watuaji. Mungkin, saya pikir, anak-anak panti bisa dititipkan di sana, bahkan bisa seterusnya bergabung dengan pesantren saja.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (5)
Baru saja sang tamu pergi, sebuah motor dari jauh melaju kencang, dengan deru mesin lantang, memecah udara kota. Berhenti mendadak di depan panti dan orang yang dibonceng tanpa turun dari motor melemparkan bom molotov ke arah panti. Tak hanya satu. Beberapa. Api lekas menjalar ke dalam rumah. Aku dan Bu Yani, dibantu warga sekitar dengan spontan mengeluarkan apa yang berharga dalam rumah.
Saya terutama memikirkan barang-barang milik anak-anak panti. Bu Yani menyelamatkan semua barang penting, akta Yayasan, komputer, buku-buku. Saya bahkan lupa surat-surat berhargaku. Ijazahku, SK-ku yang baru, sertifikat dan lain-lain tak ada yang tersisa. Kecuali kartu-kartu penting di dalam dompet. Saya teringat judul buku Memoar Ajip Rosidi: hidup tanpa ijazah. Dalam arti yang sebenarnya.
Beberapa wartawan datang, Yon ada di antara mereka. Tak mungkin saya suruh Bu Yani untuk menjawab mereka. Aku mau tak mau temui mereka dan menjawab sekadarnya. Begini ya rasanya ditanya-tanya dengan pertanyaan tak bersimpati oleh wartawan di saat mengalami musibah. Saya tahu saya tak bertanya seperti itu. Saya banyak menjawab dengan ”tak tahu”, karena memang banyak hal yang saya tak tahu kenapa ada orang mau membakar panti kami.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi