Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 13:40 WIB
Surabaya
--°C

Amplop Kiai

NU memutuskan mundur dari dunia politik dalam wadah PPP melalui keputusan Muktamar pada 1984 yang digelar di Situbondo, Jawa Timur. Dalam keputusan muktamar itu, NU menyatakan kembali ke khittah 1926 yaitu sebagai organisasi sosial kemasyarakatan keagamaan. Ketika itu para politisi NU yang kecewa melakukan gerakan yang populer disebut sebagai penggembosan PPP.

Akibat aksi penggembosan itu perolehan suara PPP pada Pemilu 1988 merosot hingga hanya mencapai 15,6 persen. Padahal pada Pemilu 1982, PPP meraih suara nasional sebanyak 27,78 persen. Karena perolehan suara yang jeblok, John Naro akhirnya dicopot dari posisi ketua umum pada Muktamar PPP 1989. Dia digantikan oleh Ismail Hasan Metareum yang dikenal sebagai politisi yang sejuk. Di bawah kepemipinan Metareum PPP praktis adem ayem.
Pada era reformasi konflik internal pecah lagi. Menjelang pemilihan presiden 2014 terjadi perebutan kekuasaan antara Ketua Umum Surya Darma Ali (SDA) melawan kubu anak-anak muda yang dipelopori Romahurmuzy.

BACA JUGA  Iduladha 1447 H: Unesa Putar Balik Tradisi Kurban, Prioritas Mutlak Wong Cilik dan Mahasiswa Rantau

BACA JUGA: Kebun Binatang

SDA yang ketika itu menjadi menteri agama di kabinet SBY ditangkap oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam kasus korupsi dana haji. SDA divonis dan dihukum penjara. PPP pecah menjadi dua, kubu SDA memilih Djan Faridz sebagai ketua dan kubu lain memunculkan Romahurmuzy sebagai ketua.

Dua kubu terlibat saling gugat sampai selama bertahun-tahun. Nasib Romahurmuzy kemudian sama dengan SDA ditangkap KPK dalam kasus gratifikasi di Departemen Agama, dan Romahurmuzy dijatuhi hukuman penjara.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.