Menurut dia, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah.Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja—seperti Kaum Aristippos — melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.
Kapitalisme kemudian mengakomodasi itu. Memproduksi simbol- simbol sosial tingkat pencapaian hidup sesuai persepsi para hedonis. Rumah mewah, supercar, privat jet, yacht, nomor mobil khusus satu angka ditambah tiga huruf yang bebas di jalan yang beraturan genap ganjil. Serta berbagai jenis benda yang menopang gaya hidup konsumtif lainnya.
BACA JUGA: Ungkap Kasus ”Polisi Tembak Polisi”, DK PWI Pusat Dorong Wartawan Lakukan Invesitigasi
Itulah demokrasi! Teringat ungkapan Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan dan urusan. Dari urusan pencalonan anak dan menantunya sebagai walikota, hingga urusan relawan berwacana Presiden 3 Periode yang direstuinya. Selalu menyebut kata demokrasi sebagai jimat atau kata kunci. Tidak ada yang menyangkal hak demokrasi seluruh warga negara Indonesia. Namun, merupakan persoalan besar dan rumit ketika ungkapan itu digunakan pejabat publik melindungi dirinya. Lalu menghadap-hadapkan ungkapan itu kepada rakyat yang membiayai gaji dan tunjangan-tunjangan mereka sampai ke anak dan istri. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi