Senin, 8 Juni 2026, pukul : 02:52 WIB
Surabaya
--°C

Hosniya, Peserta Didik SDN Bulu Sidokare, Juara Lomba Kriya Permainan Tradisional Sidoarjo

SIDOARJO-KEMPALAN: Permainan tradisional seperti dakon dan sejenisnya sudah jarang diminati anak-anak zaman sekarang. Namun, bagi Hosniya Yuliya, permainan dakon adalah bagian dari kekayaan budaya bangsa yang harus dilestarikan oleh generasi muda.

”Saya memilih dakon karena unik. Sayangnya sekarang sudah jarang diminati anak-anak.” kata Hosniya yang menjuarai lomba kriya permainan tradisional Kabupaten Sidoarjo 2023.

”Saya memilih tradisional dakon karena sudah langka dan kurang diminati anak-anak sekarang. Dengan bermain Dakon yang berbentuk tas ini bisa dibawa kemana-mana dan disukai anak-anak.” kata Hosniya yang didampingi pembinanya Ngateman.

Hosniya yang tahun ajaran 2023-2024 mendatang akan naik ke kelas V SD mengakui, kendala dalam membuat kreasi kriya permainan tradisional dakon tidak terlepas dari pemasangan elemen tas satu ke elemen lainnya.

BACA JUGA  DINASTI SETTER SEJOLI IWAN GISO – RITA KURNIATI: Mahakarya Langka yang Mengalirkan Darah Voli Generasi Emas Indonesia

“Saya suka main dakon dan bahan aslinya memang kayu, dalam perkembangan diproduksi dari bahan plastik.” tutur Hosniya yang kini berusia 11 tahun.

Membuat kreasi kriya permainan tradisi bagi Hosniya menjadi pengalaman pertama yang sangat berkesan, terutama karena masalah disiplin yang harus dipatuhi. “Untung saya dibimbing pak Ngateman yang sangat ahli dalam bidang seni rupa kriya, dengan bimbinganya yang tekun dan sabar akhirnya saya bisa meraih kesuksesan.” kata anak ke 4 pasangan Jumaha-Rumsiyah itu.

Hosniya yang bercita-cita menjadi polwan meminta agar teman-teman seusianya tidak menyia-nyiakan permainan tradisional seperti dakon.

“Meski hanya permainan dakon, tapi sebenarnya itu adalah kekayaan bangsa dan layak dilestarikan.” kata Hosniya.

BACA JUGA  PORKAB Sidoarjo 2026: Membuka Kran Regenerasi, Cetak Kerangka Emas Menuju Porprov X Jatim 2027 Surabaya

Guru pembimbing Ngateman mengatakan, pilihan permainan tradisional dakon ini berlatar belakang kurangnya minat anak-anak terhadap permainan warisan budaya bangsa.

“Semula kami rancang bentuk kapal, kemudian kami pikir lagi dengan Hosniya, inovasi apa yang bisa dikreasikan pada dakon, akhirnya ketemu bentuk tas,” beber Pak Ngateman yang juga dikenal sebagai seniman lukis.

Pak Ngateman berharap dengan melakukan revisi dan tambahan aksesoris nantinya kreasi Hosniya bisa menjadi juara di tingkat Jatim.

“Mohon doanya.” pungkas Ngateman.

(kris)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.