Kamis, 23 April 2026, pukul : 01:42 WIB
Surabaya
--°C

Dukungan Datang dari Umat Kristen, Upaya Sudutkan Anies dengan Politik Identitas Gagal

JAKARTA—KEMPALAN: Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga melihat dukungan terhadap Anies Baswedan tidak hanya datang dari kalangan Islam. Dukungan dari luar Islam, seperti dari umat Kristen, tutur Jamil juga sudah mulai bermunculan untuk pencapresan Anies.

“Ini artinya, upaya menyudutkan Anies dengan politik identitas tidak berhasil,” kata Jamil, Ahad, 4 September 2022.

Meski kadang menghadapi cemoohan, sejumlah tokoh dan figur dari warga Kristiani mulai berani terang-terangan memberikan dukungan terhadap Anies. Misalnya ada Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta (PGPI) Pendeta (Pdt) Jason Balompapueng yang menyebut kepemimpinan Anies yang terbaik dengan dibangunnya hampir 50 gereja selama kepemimpinan Anies, Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia Pematang Siantar Sumut Pdt. Zahara Sitinjak, Sekretaris Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Siantar Pdt. Horas Sianturi, mantan Wamen ATR Surya Tjandra, Ph.D yang juga elite PSI dan dosen tetap Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Jakarta, serta akademisi, jurnalis Kristen-Tionghoa, mantan aktivis Badan Musyawarah Antar-Gereja (BAMAG) Jawa Timur Freddy Mutiara. Freddy yang dibaptis di Gereja Bethel Indonesia Jakarta ini menyoroti fakta-fakta objektif-positif tentang Anies melalui sejumlah tulisannya dari perspektif Kristiani.

Ini belum termasuk dukungan silent supporter dari umat Kristen yang belum secara terbuka mendukung Anies karena melihat mendukung Anies saat ini adalah sama dengan melawan arus dari golongannya sendiri, namun diam-diam bersimpati kepada Anies melihat prestasi dan pengayoman serta keadilan kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta itu terhadap umat Kristiani di Ibu Kota. Pengamatan di lapangan menunjukkan jumlah mereka ini di akar rumput saat ini sudah sangat banyak.

Berbeda dengan Prabowo Subianto yang sudah dideklarasikan oleh partainya, elektabilitasnya hanya berbeda tiga persen dengan Anies. Ini artinya, elektabilitas Prabowo relatif jalan di tempat.

Padahal, Prabowo pada tahun 2019 salah satu capres yang memperoleh suara yang relatif tinggi. Karena itu, dengan elektabilitas sebesar itu, tentulah elektabilitasnya saat ini dapat dikatakan sangat kecil.

Sementara Ganjar Pranowo, dengan elektabilitas 36,9 persen tentulah hal yang wajar. Sebab, relawan Ganjar dan para penyokongnya terus intens menggalang dukungan ke seantero negeri. Setiap hari kita mendengar adanya deklarasi dari ribuan warga untuk mendukung pencapresan Ganjar.

Para relawan Ganjar juga aktif membantu masyarakat baik sembako, perbaikan rumah, hingga berbagai kebutuhan masyarakat. Semua ini tentunya perlu modal yang besar yang tak mungkin dapat dibiayai sendiri oleh Ganjar.

Dengan intensnya relawan Ganjar dan penyokongnya, tentu elektabilitas yang diperoleh Ganjar saat ini dapat dikatakan kecil. Seharusnya elektabilitas Ganjar sudah melampaui 50 persen ke atas.

Jadi, dengan elektabilitas yang dimiliki Anies saat ini sudah membuat khawatir para kompetitornya. Mereka melihat Anies menjadi ancaman utama untuk mewujudkan impiannya menjadi presiden.

Kiranya hal itu yang membuat Anies kerap disudutkan oleh pendukung calon kompetitornya. “Harapan mereka, Anies dapat diberi stigma penganut politik identitas sehingga masyarakat antipati kepadanya,” kata Jamil. Namun cara itu tampaknya hingga saat ini belum berhasil untuk menahan laju elektabilitas Anies yang belum bekerja. (kba/*)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.