Tapi, entah mengapa Mega tidak pernah membanggakan capaian itu. Mungkin Mega tidak terlalu bangga karena dia hanya melanjutkan kepresidenan Gus Dur yang tersisa 3 tahun. Mungkin juga Mega tidak terlalu bangga karena ia gagal memenangkan kepresidenan ketika maju dalam kontestasi pemilihan langsung untuk merebut masa jabatan penuh 5 tahun.
Mega masih menyimpan keinginan untuk maju menjadi capres lagi pada perhelatan 2014 setelah SBY lengser. Tapi, realitas politik ketika itu tidak memungkinkan, karena elektabilitas Mega tertinggal jauh oleh Joko Widodo yang ketika itu menjadi gubernur DKI. Mega tidak punya pilihan lain selain menyerahkan tiket capres PDIP kepada Jokowi.
BACA JUGA: Bola 303
Jokowi diam-diam mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, termasuk menjalankan proyek pencitraan yang masif. Dalam waktu relatif singkat elektabilitas Jokowi meroket dan tidak bisa ditahan lagi oleh siapa pun. Mega menghadapi pilihan yang dilematis. Ia menghadapi fait a compli dan akhirnya menyerah. Mega menjadi korban ‘’creeping coup’’ atau kudeta senyap yang dilakukan Jokowi.
Sekarang 10 tahun berlalu. Tentu masih segar dalam ingatan Mega betapa sakitnya menjadi korban creeping coup ketika itu. Ketika Mega maju dalam pilpres 2004 ia menginginkan SBY sebagai calon wakilnya. SBY yang ketika itu menjadi menteri koordinator politik dan hukum di kabinet Megawati menolak ajakan Mega, dengan alasan ingin fokus pada tugasnya sebagai menteri.
Tapi, diam-diam, dari balik punggung Mega, SBY membangun kekuatan, melakukan machtsvorming, penggalangan kekuatan untuk mengkudeta Mega. SBY mendirikan Partai Demokrat untuk menjadi kendaraan politik maju sebagai calon presiden. Mega kaget dan geram oleh manuver SBY ini. Tapi, ia terlambat menyadari dan popularitas dan elektabilitas SBY telanjur moncer.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi