Mega bisa memaksa Ganjar untuk tidak maju. Mega juga bisa memaksa Jokowi untuk tidak mengajukan calon sendiri. Tetapi, persoalan menjadi pelik ketika calon yang dipilih Mega tidak bisa mengimbangi elektabilitas Ganjar yang selalu masuk 3 besar.
Waktu sudah semakin sempit. Mega pun mulai melepas Puan ke palagan. Harapannya Puan segera bisa bermanuver dan bisa mengerek dukungan. Gerakan masif dilakukan. Kampanye wacana presiden perempuan pada 2024 pun diluncurkan. Puan sudah mulai berani sesumbar bahwa 2024 nanti sudah waktunya Indonesia punya presiden perempuan.
Tantangan akan sangat kompeks. Kepemimpinan perempuan di level nasional masih sangat sensitif, terutama di kalangan umat Islam konservatif. Masih sangat banyak ulama yang berpendapat bahwa wanita haram hukumnya menjadi pemimpin, apalagi menjadi presiden.
BACA JUGA: Netral Gender
Mega sudah mengendus kemungkinan ini. Karena itu ia pun sudah menyiapkan strategi antisipasi. Salah satunya dengan membentuk opini di media, dan mencari fatwa dari para ulama pendukung kepemimpinan perempuan. Mega sendiri kerap mengungkap ‘’prestasi akademik’’-nya sebagai testimoni bahwa seorang perempuan bisa berprestasi tinggi. Apakah kampanye pamer prestasi ala Mega ini efeketif atau malah jadi bahan rundungan, harus kita lihat nanti di lapangan.
Di negara yang mengklaim diri sebagai biang demokrasi seperti Amerika Serikat, kepemimpinan perempuan sebagai presiden masih menjadi impian yang jauh. Tidak ada satu pun presiden perempuan dalam dua setengah abad sejarah negara itu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi