KEMPALAN: PERGERAKAN politik partai partai politik terlihat sangat dinamis dan cepat, tentu saja hal ini dilakukan untuk mencari titik temu diantara kepentingan kepentingan mereka.
Dalam politik berlaku adagium menang atau ikut menang, sehingga adagium ini kadang berbanding terbalik dengan logika masyarakat kebanyakan. Bagi partai politik tidak ada yang disebut dengan wilayah hitam dan putih, yang ada adalah bagaimana kepentingan kepentingan mereka bisa terakomodir oleh kekuasaan. Hal ini wajar terjadi, karena didalam Demokrasi pancasila tak dikenal dengan partai oposisi.
Lalu titik temu yang seperti apa yang sedang dikomunikasikan diantara mereka? Merujuk pada hasil survey tentu ini berkaitan dengan siapa yang akan dijadikan sebagai capres dan cawapres.
Merujuk pada hasil survey beberapa lembaga survey yang ada, selalu muncul top mind tiga teratas, yaitu Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.
BACA JUGA: Anies Dipaksa Ditersangkakan, Pertanda Demokrasi Sedang Sakit
Dari tiga calon teratas tersebut yang paling menarik adalah Anies Baswedan. Pertama karena Anies tidak memiliki kendaraan politik untuk maju, kedua, Anies selalu diposisikan sebagai capres yang tidak didukung oleh istana dan dimusuhi oleh oligarki, ketiga, Anies selalu dihadapkan dengan Prabowo, seolah Anies tidak akan maju kalau Prabowo maju, meski yang dipublikasikan video Anies tahun 2019, ketika Prabowo maju sebagai capres tahun 2019. Selalu ada upaya untuk menggagalkan Anies maju sebagai kandidat calon presiden tahun 2024.
Anies kerap kali dimusuhi oleh mereka – mereka yang menjadi peliharaan istana dan oligarki. Apapun yang dilakukan Anies tak akan ada benarnya, bagi mereka Anies selalu salah.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi