Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 21:45 WIB
Surabaya
--°C

Merdeka! Tapi Jangan Lupa Sejarah ORI ya

Selain itu, pemerintahan pendudukan Jepang lalu juga memperkenalkan Oeang pisang karena ada gambar pohon pisang pada uang tersebut, untuk publik. Awalnya, walau dicetak di Jepang, tapi pada uang pisang itu tertulis bahasa Belanda. Barulah pada seri kedua setelah tahun 1943, nama gulden di uang pisang diganti nama “roepiah”.

Beberapa hari berikutnya, pada 3 Oktober 1945, Presiden Soekarno mengumumkan secara resmi, baik mata uang Hindia-Belanda maupun mata uang pendudukan Jepang, tetap diakui dan menjadi alat pembayaran yang sah. Sementara itu, pemerintahan Hindia-Belanda di pengasingan Australia telah menyiapkan uang-NICA yang dicetak di AS.

Untuk pertama kalinya, NICA juga mencatumkan sebutan “roepiah” ke dalam jenis mata uangnya. Uang ini yang akan dibawa pasukan NICA dan diedarkan ke masyarakat. Langkah NICA ini tentu saja terkait pada upaya mereka untuk mempertahankan pengakuan internasional kelak, bahwa wilayah Indonesia tetaplah wilayah Hindia-Belanda.

Menghadapi hal ini, Sjafruddin menemui Hatta untuk mengusulkan pencetakan mata uang sendiri. Hatta menolak keras. Namun, Sjafruddin meyakinkannya, bahwa kalau sampai nanti terjadi penangkapan oleh Belanda, maka para elit Indonesia akan dituding Belanda sebagai pemberontak. Bukan pemalsu uang. Alasan Sjafruddin masuk akal.

Hatta kemudian menerimanya. Selanjutnya, Menteri Keuangan AA Maramis mempersiapkan penerbitan mata uang Republik, yaitu Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Langkah ini penting meski masalah utama adalah begitu banyak aneka mata uang yang beredar di masyarakat serta di dalam Java Bank, yang berada di luar pengawasan pemerintahan baru.

Sedangkan sekutu enggan mengakui mata-uang Jepang yang telah beredar kala itu. Ditambah lagi, ada dua masalah yang dihadapi pemerintah Republik Indonesia terkait masalah moneter ini. Pertama, cadangan emas di Hindia-Belanda telah dikuras lalu dibawa lari Belanda ke Australia sebelum invasi Jepang sehingga bisa diperkirakan Belanda tidak akan kembali menggunakan mata uang Gulden. Kedua, perlu ada kestabilan moneter untuk perbaikan kondisi ekonomi.

Menghadapi situasi ini, Maramis menegaskan lagi, bahwa mata uang Hindia Belanda dan mata uang Jepang tetap bisa beredar dan kelak bisa ditukar dengan mata uang ORI. Pada 17 Oktober 1945 cetakan uang ORI dibuat di Jakarta, bergambar Soekarno dan erupsi gunung.

Persiapan untuk mencetak uang pun segera dilakukan, namun pasukan sekutu sudah terlanjur masuk ke Jakarta pada pertengahan Januari 1946. Mereka menduduki berbagai bangunan serta merampas seluruh aset milik Republik Indonesia. Untungnya, pelat cetakan uang ORI bisa diselamatkan Sumitro  dan para pejuang kemerdekaan sehingga secara resmi uang cetak ORI pertama kali bisa beredar pada Oktober 1946, dengan tanda-tangan Maramis tertanggal 17 Oktober 1945.**

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.