JAKARTA-KEMPALAN: Kementrian Pertanian (Kementan) melihat adanya peluang di tengah konflik antara Rusia dan Ukraina yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.
Suwandi, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, mengatakan bahwa perang tersebut berdampak pada harga gandum di dalam negeri melonjak karena impor yang terhambat.
Menurut Suwandi, lonjakan harga gandum dapat diatasi dengan memaksimalkan ekspor singkong karena berpotensi diburu masyarakat dan khususnya dari luar negeri.
“Justru kalau saya melihat itu ini berkah, harga gandum dalam negeri naik, kesempatan singkong kita, jagung kita, sorgum kita naik, bagus diminati pasar,” ungkap Suwandi.
Suwandi menyebutkan bahwa di tengah harga gandum internasional mengalami peningkatan akibat konflik Rusia dan Ukraina, ekspor singkong dan juga produk turunannya meningkat tiga kali lipat.
“Ini terbukti, ekspor singkong dan turunannya tahun 2021 naik hampir 300 persen dibanding 2020. Itu gambarannya bagaimana singkong saja, satu komoditas,” pungkasnya.
Sektor pertanian saat ini dinilai oleh Suwandi sangat solid dalam menghadapi berbagai masalah yang datang. Mulai dari iklim ekstrem, Covid-19, ancaman krisis pangan dan energi, hingga konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
Salah satu negara produsen gandum terbesar di dunia adalah Ukraina. Oleh karena itu, terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina membuat harga gandum di dunia melonjak karena pasokan yang terbatas.
Suwandi menuturkan bahwa Indonesia pun merupakan salah satu negara yang bergantung untuk melakukan impor gandum ke Ukraina, yaitu sebesar 36 persen dari total kebutuhan di dalam negeri atau sebanyak 3 juta ton.
Namun, di tengah kondisi sulit tersebut Suwandi memastikan bahwa PDB pada sektor pertanian sejak awal terjadinya pandemi hingga saat ini terus mengalami pertumbuhan positif. Selain itu, ekspor pangan pun sejak 2020 hingga saat ini terus tumbuh.
“Saat sulit ternyata membawa berkah. PDB sektor pertanian tumbuh positif terus di saat sulit,” jelas Suwandi.
“Ekspor sektor pertanian total naik tinggi. Contoh ekspor 2020 ekspor pertanian total sekitar Rp450 triliun, itu naik 15 persen lebih dibanding tahun sebelumnya. 2021 ekspor naik Rp625 triliun, naiknya 38 persen, ini tanda baik. Di 2022 juga ekspor produk pertanian naik yang didominasi sektor perkebunan,” katanya.
Menurut Suwandi, substitusi yang dilakukan pemerintah sebagai bentuk untuk mengatasi inflasi dengan cara meningkatkan jumlah dan juga nilai ekspor ke berbagai negara.
“Telur dan daging ayam, kita dorong. Di Singapura ayam dan telur produk kita mengalir ke sana, ini hal baru. Kita juga mencari sumber-sumber lain menahan dampak inflasi, mendorong ekspor,” jelas Suwandi. (Kumparan/Suara/Republika, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi