Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 18:47 WIB
Surabaya
--°C

Revolusi Akhlak

Sekarang kedaruratan dikonstruksi atas nama ancaman radikalisme dan ekstremisme Islam. Konstruksi kedaruratan ini harus ada supaya kekuasaan bisa melakukan langkah-langkah hukum yang eksepsional melampaui kewenangan legislatif dan judikatif. Politik harus ditransformasikan secara radikal menjadi dunia kehidupan yang telanjang dalam sebuah kamp konsentrasi raksasa yang memungkinkan penguasa melakukan dominasi total.

Manusia berada dalam kamp konsentrasi, bukan hanya merujuk pada makna harfiah, tapi merujuk juga pada kondisi dimana manusia menjadi semata-mata tubuh wadag ragawi tanpa identitas politik, tanpa perlindungan hukum, sehingga terekspos secara langsung oleh berbagai kekerasan. Homo sacer, manusia telanjang, adalah seseorang yang sudah dilucuti haknya sebagai warga yang terhormat, sehingga bahkan dia boleh dihabisi nyawanya. Pembunuhan 6 pengawal HRS di Kilometer 50 adalah salah satu contoh kecil.

BACA JUGA  Tragis!, Kericuhan Pecah di Jalan Sehat Tahun Baru Islam Pemprov Jatim, Kotak Undian Ditumpahkan Massa

BACA JUGA: BUMN

HRS melakukan counter-wacana dengan menggaungkan kondisi darurat kazaliman yang menjadi sintesa bagi kondisi darurat yang digaungkan pemerintah. Dengan menggaungkan kondisi darurat kezaliman dan kebohongan HRS melakukan counter-wacana dan sekaligus menantang dominasi negara sebagai penguasa wacana.

Gaung ‘’revolusi akhlak’’ yang disuarakan HRS, mungkin, tidak akan terlalu besar. Posisi HRS sekarang adalah menjadi manusia telanjang, yang setiap saat bisa digaruk kembali dan dipenjarakan. Meski begitu, revolusi akhlak, setidaknya, punya gaung yang bisa menjadi alternatif suara oposisi yang selama ini selalu sayup-sayup, nyaris tak terdengar. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.