Hubungan love and hate antara media dan pembacanya selalu mengalami pasang surut. Ketika media dianggap bisa memenuhi kebutuhannya maka akan dicintai, dan sebaliknya ketika tidak sesuai dengan harapannya maka akan serta merta dicaci maki.
Para pemimpin ACT yang berseteru yang saling membongkar rahasia. Ketika kemudian terungkap malpraktik pengelolaan keuangan dalam organisasi amal itu maka Tempo menjadi sasaran kemarahan sekalangan orang. Seseorang yang memakai psedu-name ‘’Jilbab Hitam’’ menulis di media sosial mengungkap praktik gelap di redaksi Tempo yang menyangkut ‘’jual beli berita’’ di level atas redaksi Tempo.
BACA JUGA: Firaun
Kemudian muncul kasus pembunuhan ‘’Brigadir J’’ yang membuat heboh. Media kecolongan total, dan tidak bisa mengendus kasus ini sampai 3 hari setelah kejadian. Itu pun setelah polisi mengeluarkan rilis dengan versinya sendiri. Baru setelah keluarga korban mengunggah konten ke media sosial yang mengungkap sejumlah kejanggalan, media-media mainstream beramai-ramai mengeksposnya.
Simpang siur terjadi karena ada upaya ‘’cover-up’’ menutup-nutupi kejadian yang sesungguhnya. Sebagaimana biasa, semakin sebuah kasus ditutupi semakin liar spekulasi yang berkembang. Berbagai sumber yang tidak kredibel bermunculan. Dewan Pers berupaya memberi guidance supaya pemberitaan muncul dari nara sumber yang kredibel. Tapi, Dewan Pers malah mengarahkan media supaya mengambil nara sumber resmi dari polisi. Setelah ramai mendapat protes, Dewan Pers menarik pernyataannya.
Dalam kasus Brigadir J media mainstream dianggap gagal mengungkap peristiwa yang sesungguhnya. Tradisi investigasi yang menjadi puncak capaian jurnalistik belum menjadi tradisi di Indonesia. Inilah yang membuat audiens berpaling kepada media sosial sebagai sumber informasi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi