Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 16:19 WIB
Surabaya
--°C

Inflasi AS Cetak Rekor Tertinggi Sejak 41 Tahun Terakhir, Ekonom Indonesia Ketar-ketir

JAKARTA-KEMPALAN: Melampaui ekspektasi, inflasi Amerika Serikat pada bulan Juni 2022 mencatat lonjakan terbesar sejak 1981.

Inflasi Amerika Serikat pada bulan Juni menjadi yang tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Angka tersebut melebihi prediksi yang telah dibuat oleh Dow Jones, yaitu sebesar 8,8 persen.

Dalam pengumuman pada hari Rabu (13/7/2022) pagi waktu setempat, secara tahunan (year on year/yoy) Indeks Harga Konsumen (CPI/IHK) yang tercatat adalah sebesar 9,1 persen.

“Pembeli membayar harga yang lebih tinggi secara tajam untuk berbagai barang pada bulan Juni karena inflasi terus menahan perlambatan ekonomi AS,” ungkap Biro Statistik Tenaga Kerja pada Rabu (13/7/3033).

Sedangkan, IHK utama naik sebesar 1,3 persen secara basis bulanan dan IHK inti naik sebesar 0,7 persen. Pengaruh utama dari kenaikan tersebut adalah karena melonjaknya harga bahan bakar per galon hingga sebesar USD 5 atau sekitar 4,5 liter.

Cliff Hodge, Kepala Investasi Cornerstone Financial Cliff, mengatakan bahwa data IHK pada bulan Juni ini memiliki sentimen yang buruk.

Sebelumnya, pemerintahan di Gedung Putih telah memprediksi tingginya data inflasi pada bulan Juni.

“Kami memperkirakan data inflasi akan sangat meningkat, terutama karena harga gas sangat tinggi di bulan Juni,” ucap Sekretaris Pers Karine Jean-Pierre.

Pada bulan pertemuan kebijakan yang diadakan bulan Juli, The Fed memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga 75 basis poin di tengah inflasi yang tinggi dan juga pertumbuhan pekerjaan dan upah yang masih kuat.

Akibat lonjakan inflasi AS Faisal Rachman, Ekonom Bank Mandiri, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga yang lebih agresif. Ia juga khawatir jika Bank Indonesia akan mengambil kebijakan moneter yang serupa.

“Ini memberikan tekanan untuk BI untuk dapat menaikkan suku bunga acuan lebih cepat, demi menghindari imported inflation dari pelemahan mata uang,”

Yusuf Rendy, Ekonom CORE, juga menyampaikan kekhawatiran yang sama. Menurutnya, lonjakan inflasi tersebut akan diikuti dengan kebijakan BI yang ketat akibat The Fed menaikkan suku bunga acuannya dengan agresif.

“Jika hal ini dilakukan, akan memberikan dampak ke emerging market termasuk di dalamnya Indonesia, karena umumnya reaksi pasar ketika bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan adalah memindahkan dana mereka ke negeri Paman Sam, sehingga akan memberikan dampak terhadap pelemahan nilai tukar di negara tersebut,” ungkapnya.

Yusuf menjelaskan bahwa hal tersebut pernah terjadi di bulan lalu, yaitu Indonesia mengalami capital outflow karena The Fed menaikkan suku bunga acuannya dan mengakibatkan nilai tukar rupiah menyentuh Rp15.000 per dolar AS.

Jika rupiah melemah akan menyebabkan kenaikan harga di dalam negeri sehingga inflasi akan terjadi. “Inflasi dalam negeri yang tinggi membuat peluang BI menaikkan suku bunga acuan lebih cepat akan terjadi,” katanya.

“Tentunya kenaikan suku bunga yang lebih cepat dapat memberikan hambatan untuk pemulihan ekonomi Indonesia yang sedang dalam fase akselerasi,” tambahnya. (CNN/Ekonomi.bisnis/CNBC, Arlita Azzahra Addin)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.